Tarian Likok Pulo meriahkan kegiatan Lange Nacht der Konsulate di Hamburg

 

Oleh Aulia Farsi melaporkan dari Hamburg, Jerman.

Pada tanggal 16 mei 2017 lalu, KJRI Hamburg berpartisipasi pada acara yang diselenggarakan oleh pemerintah kota Hamburg bertajuk Lange Nacht der Konsulate in Hamburg. Sesuai namanya, kegiatan ini ditujukan sebagai wadah konsulat masing-masing negara menampilkan budayanya. Acara ini diikuti oleh  30 konsulat dan institut budaya dari berbagai negara seperti  Botswana, Mesir, Bulgaria, Chile, China, Republik Dominika, Argentina, Belarus, Perancis, Yunani, Inggris Raya dan Irlandia Utara, India, Indonesia, Iran, Islandia, Italia, Kazakstan, Republik Korea, Republik Serbia, Federasi Rusia, Mali, Mongolia, Polandia, Portugal, Spanyol, Tajikistan, Thailand, Turki, Uruguay, Yayasan Uni Eropa dan Amerika Latin dan Karibia, Institute Cervantes, Institut Francais, dan Institut Budaya Italia.

Kegiatan yang dimulai dari pukul 18:00 CEST hingga pukul 22:00 CEST ini terbuka untuk umum dan mendapat sambutan hangat dari para pengunjung yang merupakan warga Hamburg dan warga Indonesia yang menetap di Hamburg. Dalam rangkaian kegiatan ini, KJRI Hamburg menampilkan film dan presentasi mengenai Indonesia, kuliner, musik dan tarian tradisional Indonesia.

Di sini tim tari Ikatan Mahasiswa Aceh di Jerman (IMAN) pun ikut ambil bagian untuk menampilkan tarian tradisional Indonesia yang berasal dari Aceh yakni tarian Likok Pulo yang berhasil mengibur pengunjung yang hadir. Tarian Likok Pulo adalah sebuah tarian yang berasal dari Pulo Aceh yang merupakan salah satu pulau di bagian utara Pulau Sumatera. Selama ini terjadi banyak kesalahpahaman di kalangan mahasiswa dan warga Indonesia di Jerman mengenai nama tarian Likok Pulo dan Ratoeh Duek yang dianggap sebagai tari Saman. Kesalahpahaman ini muncul karena masyarakat menganggap semua tari yang berasal dari Aceh disebut tari Saman. Dalam hal ini IMAN berfungsi mengenalkan budaya Aceh yang benar kepada masyarakat Indonesia yang berada di Jerman serta warga Jerman sendiri.

Bersiap untuk tampil

Tarian Likok Pulo dimainkan dengan posisi duduk bersimpuh, berbanjar, atau bahu membahu. Seorang pemain utama yang disebut cèh berada di tengah-tengah pemain. Satu atau dua orang penabuh rapa’i berada di belakang atau sisi kiri dan kanan pemain.Gerak tarian ini sendiri hanya memfungsikan anggota tubuh bagian atas, badan, tangan, dan kepala. Gerakan tari pada prinsipnya ialah gerakan oleh tubuh, keterampilan, keseragaman atau kesetaraan dengan memfungsikan tangan sama-sama ke depan, ke samping kiri atau kanan, ke atas, dan melingkar dari depan ke belakang, dengan tempo mulai lambat hingga cepat.

Pada penampilan kali ini, tim tari Likok Pulo IMAN tidak hanya diisi oleh mahasiswa asal Aceh, akan tetapi juga diisi oleh para pelajar Indonesia lainnya yang berada di Hamburg.Setelah tampil kami pun sangat senang karena bisa ikut memeriahkan acara tersebut. Rasa senang tersebut menjadi lengkap dengan berbagai sajian makanan Indonesia yang disediakan oleh KJRI Hamburg.Ini adalah partisipasi saya yang ke-10 dalam mempromosikan tarian Aceh selama di Jerman. Sebagai masyarakat Aceh, merupakan suatu kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri bagi saya akan teman-teman dari luar daerah Aceh lainnya yang ikut berpartisipasi untuk membantu melestarikan tarian ini. Saya pun berharap ke depannya akan banyak masyarakat yang ambil bagian untuk bersama-sama menjaga dan melestarikan budaya bangsa kita.

~Ditulis oleh Aulia Farsi, mahasiswa Ilmu Kesehatan dan Keperawatan di Ameos Institute Nord