Pada tahun 2016, untuk keempat kalinya acara Pasar Hamburg kembali hadir menghibur warga Hamburg dan sekitarnya. Acara tersebut merupakan tempat bertemunya insan pecinta Indonesia di Eropa yang berhasil menyedot banyak perhatian warga Indonesia maupun warga Jerman. Salah satu tujuan acara tersebut adalah untuk mempromosikan kecantikan budaya Indonesia yang dirajut dengan berbagai program penampilan tarian dan diskusi mengenai budaya nusantara serta tersedia pula berbagai aneka makanan khas tanah air.

Rapa'i Geleng

Rapa’i Geleng

Untuk keempat kalinya sejak awal diselenggarakannya Pasar Hamburg, Ikatan Mahasiswa Aceh di Jerman (IMAN) mendapat kehormatan untuk mengisi acara tahunan tersebut yang pada tahun ini diselenggarakan pada tanggal 10-11 September di Museum für Völkerkunde Hamburg. Sejak penampilan perdana kami di Pasar Hamburg, biasanya kami menampilkan tarian Likok Puloe, namun kali ini untuk pertama kalinya tim tari IMAN menampilkan Rapa’i Geleng di panggung utama Pasar Hamburg yang merupakan salah satu kegiatan promosi kebudayaan nusantara terbesar di Eropa.
Hal yang special pada penampilan Rapa’i Geleng dari tim tari IMAN kali ini adalah karena semua penarinya merupakan mahasiswa Aceh yang sedang menempuh pendidikan tinggi di Jerman. Hingga saat ini, tim tari IMAN adalah satu-satunya tim tari di Negeri Panzer yang menampilkan tarian tersebut, dan kedepannya tarian Rapa’i Geleng dari ikatan mahasiswa Aceh di Jerman siap untuk meramaikan berbagai acara kebudayaan yang diadakan di Jerman dan sekitarnya untuk mempromosikan lebih luas kebudayaan Aceh di pentas internasional.
Tidak hanya warga Aceh dan Indonesia, beberapa warga internasional juga hadir menyaksikan Pasar Hamburg. Beberapa diantara warga internasional bahkan khusus datang hanya untuk menyaksikan penampilan Rapa’i Geleng dari tim tari IMAN, diantaranya para pelajar Malaysia dan juga dari India. Tidak hanya itu, apresiasi yang sangat besar juga datang dari Ibu Sylvia Arifin, Konsul Jenderal RI di Hamburg, beserta suami yang turut hadir menyaksikan penampilan Rapa’i Geleng dari tim tari IMAN.
„Melalui kegiatan-kegiatan seperti ini kami harapkan masyarakat, baik itu warga Indonesia yang berdomisili di Jerman maupun warga Jerman, lebih mengenal kebudayaan Aceh lebih luas, terutama tarian tradisional” ujar Aulia Farsi sebagai ketua tim tari IMAN. Kegiatan ini dianggap penting karena selama ini masyarakat hanya mengetahui tari Saman sebagai tarian tradisional dari Aceh, padahal kita punya begitu banyak variasi tarian tradisional. „Saya yakin belum banyak orang yang mengetahui eksistensi tarian Rapa’i Geleng yang berasal dari Aceh Selatan” Farsi menambahkan.

Tim tari rapai geleng bersama Ibu Konjen RI di Hamburg

Tim tari rapai geleng bersama Ibu Konjen RI di Hamburg

Tim tari yang dibentuk oleh para mahasiswa Aceh ini terdiri dari mahasiswa Aceh yang sedang melanjutkan pendidikan tinggi baik itu di tingkat sarjana, master, dan doktoral di Negeri Panzer ini. Diantara para penari pada acara Pasar Hamburg tahun ini adalah: Aulia Farsi, Sahlan Zuliansyah, Zakiul Fuady, Fiddin Ichwanul Alhaz, Reza Fahmi, Kennico S. Qadry, Fachruddin, Muhammad Nawawi, Teuku Bahran Basyiran, Andri Mubarak, Fauzi Mahmuddin, dan Elyza Vahlevi sebagai manajer tim tari. Uniknya, para mahasiswa ini tidak bermukim di kota yang sama. Walau tersebar di seluruh Jerman, dari timur, selatan, barat, dan utara Jerman, mereka semua terkumpul dalam wadah Ikatan Mahasiwa Aceh di Jerman (IMAN) yang didirikan pada tahun 2011 di kota Göttingen. Nyaris tidak ada waktu untuk latihan di tengah padatnya jadwal kuliah. Oleh karena itu, jadwal latihan bersama dirancang jauh-jauh hari agar semua anggota tim tari bisa berkumpul di satu tempat untuk menyamakan ritme gerakan, sekaligus untuk bersilaturrahim.

Tarian Rapa’i Geleng ini menghadirkan tantangan tersendiri bagi tim tari IMAN karena tarian ini benar-benar baru bagi kami dan sebelumnya hanya dua dari penari yang pernah menampilkan Rapa’i Geleng ketika mereka masih belajar di sekolah menengah. Sebagian lainnya bahkan tidak memiliki pengalaman menari sebelumnya. Namun intensitas latihan yang cukup padat menjelang hari H menumbuhkan kekompakan gerakan yang cukup signifikan di atas panggung. Selama latihan, dukungan dari KJRI Hamburg juga mengalir deras untuk IMAN, dimana KJRI Hamburg memberikan izin tempat untuk kami bisa latihan secara intensif. Namun, kurangnya jumlah Rapa’i yang dimiliki tim tari IMAN menjadi kendala yang tidak bisa kami hindari. Oleh karena itu pada penampilan kali ini kami menggunakan beberapa Rebana sebagai alat musik yang juga dipinjamkan oleh KJRI Hamburg untuk sementara waktu.
Diharapkan kedepannya IMAN mampu berperan aktif mempromosikan budaya Aceh di tingkat internasional khususnya Eropa sehingga Aceh dapat dikenal lebih luas dan mampu mengundang lebih banyak wisatawan internasional ke Aceh. Informasi lebih lanjut mengenai Ikatan Mahasiswa Aceh di Jerman (IMAN) bisa dilihat pada website kami: www.mahasiswa-aceh.de.

Zakiul Fuady
Website: www.zakiulfuady.com