Sharing Buku Travelogue: Aceh-Germany-Europe

Pembicaraan seputar Jerman boleh jadi merupakan salah satu trending topic yang sangat digemari oleh beragam kalangan masyarakat di Indonesia, termasuk para mahasiswa. Terlebih setelah Jerman berhasil menjuarai turnamen sepak bola terbesar di dunia tahun ini. Dengan demikian akan semakin banyak masyarakat yang bertanya “Mengapa Jerman bias begini dan begitu?”, “Apakah di Jerman ada ini dan itu?”, hingga “Bagaimana kiat untuk melihat Jerman dengan mata kepala sendiri?”

Buku A Travelogue: Aceh-Germany-Europe dalam hal ini merupakan sumber informasi yang unik dan menarik bagi masyarakat untuk mengeksplorasi lebih banyak tentang Negeri Jerman berdasarkan laporan pandangan mata & pengalaman langsung mahasiswa Aceh yang sedang/pernah studi di Jerman. Selain dikemas dengan bahasa yang sederhana, buku ini juga sangat komprehensif mulai dari kiat-kiat personal meraih beasiswa; potret kehidupan kampus di Jerman; penyaluran hobi travelling; menjadi muslim minoritas, hingga pengalaman para Bolamania menonton berbagai pertandingan bola secara langsung. Buku A Travelogue: Aceh-Germany-Europe menyimpan banyak mutiara hikmah yang terangkum dalam berbagai catatan pengalaman harian di Jerman dan sekitarnya.

sharing buku A Travelouge di Padang

sharing buku A Travelouge di Padang

Nikmat yang Allah karuniakan kepada sebagian kita, termasuk saya, berupa kesempatan untuk menjejakkan kaki di bumi Allah, Jerman selama lebih kurang empat tahun adalah sebuah nikmat yang perlu dibagi dan teramat saying untuk disimpans endiri. “Dengan berbagi, kita menjadi semakin berisi!”,inilah mukadimahyang secara konsisten saya ampaikan dalam berbagai sharing forum (forum berbagi) yang sayafasilitasi. “Undzurmaaqoola, walaatandzur man qoola” (Lihatlahapa yang dikatakan, dan jangan lihat siapa yang mengatakan), demikianlah bunyi sebuah petuah dalam Bahasa Arab yang cukupmasyhur di kalangan para pencintailmu. Mungkin saya bukans esiapa, tetapi dalam konteks berbagi “apa” (yang disampaikan) jauh l lebih penting daripada “siapa” (yang menyampaikan)

Berbekal semangat itulah saya memberanikan untuk“menawarkan diri” kepada rekan-rekan mahasiswa di berbagai tempat yang saya kunjungi, khususnya di mana saya melakukan penelitian, untuk menginisiasi berbagai forum berbagi seputar studi, beasiswa dan dinamika kehidupan di negeri Jerman bagi siapa pun yang merasa tertarik: For Free! Alias cuma-cuma!

Alhamdulillah sejumlah respon positif saya peroleh, termasuk yang terakhir dari kawan-kawan Gamais ITB yang berencana menggelar syukuran bagi para wisudawan & wisudawati ITB. Bertempat di Ruang GSS D, Masjid Salman ITB Alhamdulillah pada tanggal 6 Juli 2014 yang lalu, saya berkesempatan untuk bersilaturahim dan menjadi fasilitator dalam acara yang bertajuk “Sharing Session & Syukuran Wisuda Gamais ITB”. Dalam kesempatan tersebut, seorang dosen ITB lulusan Amerika mengawali sharing session di hari tersebut dengan berceritera tentang pengalaman pribadinya mempersiapkan kehidupan pasca kampus. Sementara saya diminta untuk berbagi seputar kuliah dan tantangan yang saya alami sebagai muslim minoritas di Jerman. Sebagian materinya saya sarikan dari beberapa kisah yang terdapat dalam chapter “Islam Yang Tidak Biasa” di dalam buku A Travelogue: Aceh-Germany-Europe.

Dalam sesi yang berlangsung selama lebih kurang 60 menit tersebut, saya mengawalinya dengan paparan mengenai gambaran umum masyarakat Jerman dewasa ini (karakter & kebiasaan mereka); bagaimana komposisi populasi masyarakat muslim di Jerman (latar belakang & Negara asal), serta mengenai fakta bahwa Islam kini menjadi agama yang paling cepat berkembang di Eropa. Sebagai bahan pemantik diskusi, saya sampaikan pula sebuah studi kasus yang mencoba mengeksplorasi mengenai beragam sikap masyarakat Jerman terhadap isu diskriminatif yang diangkat oleh Thilo Sarrazin (2010) melalui buku kontroversialnya yang bertajuk “Deutschland Schafft Sich Ab”. 

Selain itu, saya juga memberikan penjelasan singkat mengenai FORKOM (Forum Komunikasi Masyarakat Muslim Indonesia Se-Jerman) dan keberadaan berbagai pengajian kota di seluruh penjuru Jerman yang berperan dalam menuntaskan dahaga akan beragam acara keislaman di Jerman. Penjelasan saya ditutup dengan sejumlah pengalaman personal sebagai muslim minoritas di Jerman yang mungkin sangat berbeda dengan kondisi kehidupan muslim di Indonesia.

Dalam sesi diskusi, sejumlah peserta dengan sangat antusias bertanya dan mengeksplorasi lebih lanjut tentang beragam aspek kehidupan di Jerman. Setelah satu jam berlalu, sharing session pun akhirnya ditutup dengan penyerahan sebuah buku A Travelogue: Aceh-Germany-Europe kepada salah satu wisudawan terbaik Gamais ITB. Alhamdulillah respon positif yang ditunjukkan kawan-kawan mahasiswa dalam berbagai sharing forum yang saya hadiri, membuat saya semakin bersemangat untuk berbagi lebih banyak lagi di tempat-tempat lainnya. Insya Allah dalam waktu dekat saya pun berencana mengadakan forum serupa bersama kawan-kawan mahasiswa di kota Padang.

 

(Reza Fathurrahman – Goettingen)