#PindahanTheSeries: How to find a suitable flatmates in Germany

Bercerita tentang berburu kamar kos atau flat, pasti semua yang kuliah di Jerman tahu bahwa buat sebagian besar orang, itu sulit. Sebagian kecil yang beruntung, bisa merasakan cepat dapat flat dan tinggal bahagia di sana sampai lulus kuliah. Sedangkan sebagian lain yang kurang beruntung, harus merasakan penderitaan pindahan, sampai beberapa kali, dan sampai akhirnya pindah lagi ke Indonesia.

Saya termasuk golongan besar itu. Dalam 2 tahun saya sudah merasakan 15 kali pindahan, dengan total 12 tempat tinggal. Soalnya ada beberapa tempat yang saya kembali ke sana setelah beberapa waktu.

Wow… apakah itu sulit?

Ya… bahkan walau udah pindah belasan kali, tetap saja saya tidak terbiasa. Effort pindahan di sini berat, tidak ada yang membantu, kecuali termasuk dalam golongan yang tinggal di kota yang orang Indonesianya ramai dan kompak (gak semua yang rame itu kompak). Belum lagi kalau hujan, salju, ditambah dingin minus-minusan. Membawa barang-barang segambreng, naik turun bus dan berjalan kaki, bisa sampe kiloan kalau dihitung bolak-balik. Pernah saking dramatisnya bawa barang berat, saya sampai jatuh dari tangga dan terkilir. Untung tangganya gak rusak.

Sungguh ujian iman dan keberkahan untuk yang sedang berusaha menurunkan berat badan.

Nah, petualangan ini dimulai ketika saya baru sampai di Jerman, tepatnya di Luebeck, sebuah kota kecil yang indah di utara. Saya masih polos, melihat dunia dengan kacamata warna-warni dan berprasangka baik pada semua orang Jerman. Bahwa di balik wajah beku mereka, mereka hanyalah orang-orang kesepian yang butuh beberapa SKS cara tersenyum dan beramah tamah yang benar.

Untuk sementara, saya menumpang pada orang Indonesia yang baik dan ramah. Makan gratis dan merajarela semenang-menang, hingga kemudian saya mendapatkan hunian sewa pertama, dengan seorang Jerman yang luar biasa. Ibu ini seorang dokter bedah anak. Dia menerima saya untuk tinggal di rumahnya karena saya dokter juga. Sungguh sebuah dunia kecil yang aneh.

Di sinilah petualangan sebenarnya dimulai.

Saya yang baru sampai ke Jerman, langsung benar-benar tinggal serumah dengan orang Jerman asli yang 100% kejermanannya. Flat kami itu dua kamar, saya tinggal di kamar yang kosong dan kamar si ibu tepat di sebelah kamar saya. Kami sharing toilet dan dapur. Pas awal, sebagaimana sudah diwanti-wanti banyak orang, saya menanyakan tentang Haus Ordnung atau peraturan rumah.

“Oh, enggak ada peraturan kok di sini. Aku orangnya santai.”

Saya manggut-manggut, tercerahkan.

Tapi kebahagiaan berakhir ketika negara api menyerang. Si ibu, mungkin stress kerjaan, mendadak jadi sangar. Sedikit-sedikit saya kena teguran manis. Biasanya hanya masalah aroma masakan, tumisan, sampai goreng telur pun jadi masalah,

“Ade, mulai hari ini kamu gak boleh masak pakai minyak. Termasuk butter, dll.”

Saya terdiam, pasrah seperti anak dizalimi emak tiri. Saya pasrah makan rebus-rebusan aja, sampai jadi sehat seperti harapannya.

Namun perdamaian tidak kunjung tiba, setelah itu selalu ada masalah lain. Sampai ketika saya sedang kuliah, dia bisa mengirimkan teks chat yang panjang banget tentang sesuatu yang ditemukan di kamar saya. Sesuatu yang menurut dia gak pada tempatnya, apa yang saya taruh, apa yang saya tinggalkan. Privacy? No more.

Baiklah, setelah 2 bulan batas kesabaran saya habis. Saya pindah. Kembali ke rumah pertama. Menumpang sampai menemukan rumah berikutnya.

Saya cukupkan sampai di sini sebelum kisah ini menjelma novelet. Poin penting di sini adalah mengenai flatmate. Seberapa pentingnya flatmate? Penting banget. Ibarat pasangan hidup, bisa mengubah rumah menjadi potongan surga atau malah pecahan neraka di bumi. Dari sekian banyak flatmate yang sudah saya temui, memang ibu ini yang paling ajaib.

Eh, tapi kadang setelah marah-marah, sikapnya bisa menjelma jadi semanis madu. Misalnya ngasih apa gitu, sampai ada surat cintanya. Padahal dia tahu nomor Whatsapp saya. Biar so sweet? No idea *tepok jidat.

Nah, di sini saya mengerti pentingnya menemukan flatmate sebelum berumah tangga. Eh, maksudnya sebelum menemukan hunian. Sebagaimana sebuah pepatah,

“Carilah tetangga sebelum memilih rumah, carilah kawan sebelum memilih perjalanan”

Pepatah Arab (?)

Nah, maka dari itu, buat para pelajar yang sedang mencari hunian di Jerman, selain prinsip “apa aja boleh, asal jangan sampai tidur di bahnhof”, flatmate sebisa mungkin jadi masukan untuk memilih tempat tinggal. Setidaknya, perhatikan juga gimana orangnya. Sebab flatmate yang benar, akan membuat hidup di Jerman yang gersang ini menjadi berbinar-binar.

Gimana cara tahunya udah benar atau enggak? Ya ketika Wohnungbesichtigung atau lihat rumah, cek benar-benar bibit, bebet, bobot. Eh, salah ding. Cek benar hal-hal yang tampaknya sepele, namun penting bagi kehidupan. Misalnya, kalau dia bukan sesama Indonesia, tanyakan masalah bau-bauan masakan, sekalian masalah jengkol, terasi, dan pete kalau suka. Atau masalah bunyi-bunyian, dan lainnya.

Soalnya flatmate itu yang duluan tinggal di sana, tentu kita harus menghargai mereka. Benar kan? Namun itu gak berarti kita rela diinjak, ditindas, diperlakukan tidak manusiawi. Kita juga harus merasa nyaman dan homey. Yah, gak homey banget setidaknya gak merasa rumah semi penjara atau bungker.

Haus Ordnung tanyain juga. Kadang dari Vermieter atau yang punya rumah gak ada, tapi dari flatmate ada, untuk kenyamanan bersama. Pastiin aja. Semua bisa didiskusikan kok, asal peraturannya masih masuk akal aja. Mungkin dari kitanya juga bisa nambahin tentang kebiasaan. Misalnya saya jelasin ke flatmate kalau bulan puasa saya akan sahur, jadi maaf kalau bunyi-bunyi pas subuh, dll.

Kalaupun ketemu flatmate yang cuek bebek, ala Jerman (lo-lo gue-gue, walau kita tinggal serumah anggap aja kita gak saling kenal) setidaknya pastikan bahwa ada jadwal bersih-bersih. Ini soalnya bisa jadi pemicu konflik banget. Apalagi kalau dia joroknya kelewatan. Eh, ini ada lho! Masalahnya, kalau rumah sampai rusak, kotor banget, apalagi sampai berjamur, uang deposit bisa dipotong habis sama Vermieter.

Nah, sekian dulu kali ini, sebelum kepanjangan dan melahirkan protes berkepanjangan. Sampai jumpa di episode #PindahanTheSeries berikutnya!

#Luebeckseries

 

~Ditulis oleh Ade Oktiviyari
Dokter Umum dan Mahasiswa S2 di Jurusan Master of Infection Biology, Universität zu Lübeck.
www.instagram.com/adeoktiviyari