Pertemanan di Jerman: Freund atau Bekannte?

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, “teman” adalah kawan, orang yang bersama-sama bekerja/berbuat/berjalan, atau yang menjadi pasangan; sehingga ada istilah teman sekolah, teman kuliah, teman kantor, teman main, dan teman hidup. Berkaitan erat dengan budaya timur kita yang mudah akrab dengan siapa saja, istilah teman bahkan mengalami perluasan makna sehingga ada juga yang namanya teman ngobrol, teman seperjalanan, dan teman seperjuangan sesuai dengan konteks situasinya. Dalam pada itu, teman dapat diartikan sebagai orang yang melakukan interaksi dengan kita yang kemudian memiliki satu keterikatan secara sosial, baik itu kuat atau lemah. Untuk teman dengan hubungan dan interaksi yang kuat biasanya disebut sebagai sahabat.

Di Jerman, istilah “teman” memiliki arti yang sedikit berbeda dengan di Indonesia. Di dalam kamus literatur bahasa Jerman, teman secara umum diartikan dengan seseorang yang dengannya anda memiliki hubungan yang saling mempercayai1 , dan secara lebih luas untuk menyatakan adanya hubungan sesuatu dengan manusia2 , sehingga di Jerman, umumnya binatang peliharaan di rumah seperti anjing dan kucing pun dikatakan sebagai teman.

Dalam kehidupan sehari-hari di Jerman, ada dua sebutan yang mirip dengan istilah teman yang ada di Indonesia yaitu Bekannte dan Freund. Bekannte yang artinya lebih kurang adalah teman, atau lebih tepatnya “kenalan”, merupakan seseorang yang berinteraksi dengan kita karena adanya suatu keperluan yang tidak ada sangkut pautnya dengan hal-hal yang sifatnya pribadi; hal ini berkaitan erat dengan sifat orang Jerman yang menjunjung tinggi privasi. Teman kantor, rekan bisnis, maupun teman ngobrol sepanjang perjalanan dengan kereta api tergolong kategori Bekannte. Dengan demikian, topik yang diangkat sepanjang pembicaraan dengan Bekannte ini adalah topik yang umum, seperti tentang cuaca, film, makanan, bisnis, dan hal lain yang layak untuk dibahas bersama. Oleh karena itu, jangan pernah baper bila kita mendengar seorang teman kantor merayakan ulang tahunnya dan kita tidak diundang. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan kita dengannya adalah Bekannte. Sementara itu, Freund yang juga dapat diartikan sebagai teman, adalah apa yang kita kenal di Indonesia sebagai sahabat; yaitu orang yang dengannya kita saling mempercayai dan memiliki ikatan emosional yang cukup dalam.

Berdasarkan cerita yang saya dengar dari beberapa kolega non-Jerman di kampus, tidak mudah untuk menjadikan mahasiswa Jerman sebagai Freund, melainkan hanya sebatas Bekannte. Keluhan ini bukan hanya datang dari kolega yang berasal dari Asia, namun juga kolega yang berasal dari Spanyol dan Amerika. Umumnya, mereka beranggapan bahwa orang Jerman itu kaku, pemalu, dan tertutup. Namun, hal ini tidak sepenuhnya benar. Orang-orang Jerman juga hidup dan berinteraksi sebagaimana layaknya orang-orang yang hidup di negara lain; hanya saja, mereka punya manner (cara) dan budaya sendiri dalam bergaul. Berikut ini adalah beberapa manfaat dan tips untuk mendapatkan deutscher Freund (sahabat Jerman).

 

Manfaat

Salah satu pepatah di Indonesia yang cukup populer adalah “dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”, yang artinya kira-kira adalah dimana kita hidup, maka hendaklah kita menghormati adat istiadat setempat3. Bergaul dan berinteraksi dengan masyarakat setempat dapat dijadikan salah satu tolak ukur keberhasilan dalam beradaptasi, yang tentu saja tetap dibatasi oleh norma-norma latar belakang bawaan pribadi masing-masing. Beberapa manfaat yang saya dapatkan dalam bersahabat dengan para deutsche (orang Jerman) adalah sebagai berikut.

  1. Mengatasi masalah yang berhubungan dengan bahasa. Kemampuan bahasa Jerman saya yang pas-pasan sangat terbantu dengan keberadaan sahabat Jerman saya. Mereka tidak pernah menolak bila (1) saya meminta bantuan untuk mengurus masalah birokrasi dan korespondensi sehari-hari, termasuk (2) menjawab ratusan pertanyaan saya mengenai bahasa Jerman. Para sahabat Jerman saya bahkan melatih saya dengan memberlakukan “Mensa-Zeit” (canteen-time), dimana saya hanya boleh menggunakan bahasa Jerman di sepanjang jam makan siang. Mereka melakukannya dengan sepenuh hati dan dengan sabar memperbaiki bila ada kalimat atau kata yang pengucapannya tidak tepat. Seiring berjalannya waktu, jeden Tag ist mein Deutsch ein bisschen besser4.

  2. Memanfaatkan fasilitas kampus. Universitas di Jerman memiliki segudang fasilitas yang tidak saya ketahui sebelumnya. Fasilitas itu misalnya: akun Eduroam 5, nge-print gratis berbagai ukuran, Fernleihe6 , request buku-buku baru yang belum tersedia di perpustakaan, menggunakan software berbayar secara gratis, pembiayaan perjalanan untuk konferensi dan seminar, sampai dengan potongan harga untuk pembelian produk apple dan Microsoft, dan sebagainya. Informasi mengenai hal tersebut saya dapatkan di sepanjang pertemanan saya dengan mereka.

  3. Mengenal kehidupan dan budaya Masyarakat Jerman, yang selama ini hanya bisa saya lihat di film-film klasik. Melalui persahabatan, saya dapat masuk ke zona terkecil dari tatanan masyarakat, yaitu zona keluarga. Banyak nilai baik yang saya lihat mengenai hubungan antara orang tua, anak, maupun persaudaraan. Bila deutsche sudah mengajak kita masuk ke zona ini, maka kita sudah dianggapnya sebagai salah satu orang yang penting dalam hidupnya. Tidak jarang saya diundang dalam acara keluarga, dan selalu diberi sesuatu yang spesial di hari ulang tahun saya.

  4. Memperkenalkan nilai budaya Indonesia. Sahabat-sahabat saya mulai terkesan dengan Indonesia karena saya banyak bercerita tentang Indonesia kepada mereka. Mereka juga menyukai makanan Indonesia yang beberapa kali saya masak. Beberapa dari mereka bahkan sudah datang ke Indonesia dan mengatakan akan datang kembali bersama teman/keluarganya, dan merekomendasikan Indonesia kepada teman dan keluarganya untuk dikunjungi. Apakah ini menunjukkan keberhasilan saya sebagai duta wisata? V^_^

  5. Membantu hal-hal yang sifatnya pribadi. Sejak awal keberangkatan saya ke Jerman, saya sudah punya keinginan untuk mengundang ibu saya ke Jerman. Harapan ini hampir pupus, ketika saya melihat begitu banyaknya persyaratan yang diminta oleh pihak kedutaan Jerman di Indonesia, khususnya yang berhubungan dengan finansial. Ketika secara tidak sengaja menceritakan hal ini kepada seorang sahabat, dia menawarkan untuk menjadi penjamin (secara finansial) kedatangan ibu saya ke Jerman. Di hari yang telah ditentukan, kami pergi ke Ausländerbehörde (kantor imigrasi) untuk membuat surat undangan resmi untuk ibu saya sebagai syarat untuk mengurus visa. Ketika itu, sahabat saya harus menunjukkan dokumen penghasilan, kepemilikan property, dll, sungguh sesuatu yang tidak mudah. Namun, semuanya berhasil, dan tidak tergambar betapa bahagianya saya karena akhirnya ibu saya bisa datang dan tinggal bersama saya selama tiga bulan di Jerman.

 

Tips mendapatkan deutscher Freund

  1. Mulailah, jangan menunggu! Jangan pernah menunggu orang Jerman untuk memulai pembicaraan, karena kemungkinan itu sangat kecil. Mulailah percakapan atau perkenalan dengan ramah, dan bertindaklah dengan aktif. Ketika suasana nyaman tercipta, kemungkinan kita akan dikejutkan bahwa orang Jerman malah akan lebih aktif dalam berbicara.

  2. Sopan santun. Sebagaimana yang kita ketahui bersama, sopan santun adalah kunci untuk masuk ke dunia manapun. Selama berinteraksi, jagalah ucapan dan perbuatan agar tidak menyinggung lawan bicara.

  3. Tunjukkan bahwa kita antusias. Tunjukkan wajah yang ceria dan bersemangat, dan tataplah mata/wajah orang yang sedang kita ajak bicara. Genggamlah erat dan hangat tangan ketika bersalaman. Tatapan mata yang ke sana ke mari ketika berbicara dan genggaman yang lembek, dalam budaya Jerman diartikan sebagai ketidakhormatan terhadap lawan bicara.

  4. Canda itu tidak terlalu penting, tapi perlu. Sisipkan beberapa hal yang dapat mengundang senyum dalam percakapan untuk menciptakan/membangun emotional relationship.

  5. Penuhi janji dan tepat waktu. Jagalah selalu reputasi dan kepercayaan (trust). Di Jerman, dasar terjadinya interaksi adalah trust. Hindari berbohong atau nge-les.

  6. Jadi diri sendiri. Sebaiknya, tunjukkan diri kita apa adanya. Tidak perlu malu terhadap kekurangan yang dimilki, pun tidak perlu memamerkan atau cerita yang melebih-lebihkan (hiperbola).

  7. Jaga persahabatan dengan menjaga silaturrahim. Dengan kesibukan kuliah, terkadang kita tidak dapat bertemu dengan para sahabat setiap hari, bahkan setiap minggu. Oleh karena itu, jagalah selalu silaturrahim dengan tetap menghubungi mereka melalui email, pesan singkat, atau telepon bila terlalu lama tidak berkomunikasi dengan mereka.

Itulah sekelumit cerita tentang pertemanan di Jerman. Semoga tulisan ini bermanfaat. Terima kasih. Salam!
 

Penulis: Mufti Ali Nasution
Mahasiswa S3 di Department of International Planning System
Faculty of Spatial and Environmental Planning
Technical University of Kaiserslautern
LinkedIn | Campus
 
 
 
1 eine Person, mit der man eine gegenseitige vertrauensvolle Beziehung hat.
2 übertrieben verwendet, um auszudrücken, dass eine gefühlsmäßige Beziehung zwischen etwas und dem Menschen besteht.
3 Adat istiadat yang dimaksud adalah hal-hal yang bersifat umum, yang berhubungan dengan sikap dan pergaulan sehari-hari.
4 “dari hari ke hari, bahasa Jerman saya perlahan semakin baik.”
5 International Roaming Service, yaitu fasilitas wifi untuk peneliti, staf akademik, dan mahasiswa, yang tersedia dan dapat digunakan di airport, tempat umum, lembaga pendidikan dan universitas di berbagai kota di dunia.
6 Peminjaman inter-library. Mahasiswa dan staf akademik dimungkinkan untuk mencari dan meminjam buku dari perpustakaan universitas-universitas lain di seluruh Jerman.