Peluang Setelah Lulus Kuliah di Jerman

Tulisan ini menginformasikan catatan dari diskusi di Asferadio Rakan IMAN edisi Juni 2018 – yang kebetulan saya menjadi pembawa acara – bertemakan “Peluang Setelah Lulus Kuliah di Jerman”, dengan narasumber kakanda Syahrul Anwar, M.Sc. yang merupakan alumni Universität Münster (Master in Information Systems) dengan beasiswa DAAD-Aceh Batch 1 (tahun 2008) dan sekarang merupakan dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh yang sedang menjalani proyek di Max Planck Institut for Human History di Jena. Beliau sudah berpengalaman selama kurang lebih 6 tahun sejak beralmamater Jerman dalam perjalanan karir di berbagai program, bidang dan lembaga, serta juga berwirausaha. Berikut rangkuman ulasan dari narasumber, Syahrul, yang dapat bermanfaat kepada pembaca yang akan atau berencana menyandang gelar “Made in Germany”.

Sebelum lulus dengan degree di Jerman, pastinya teman-teman memetakan rencana masa depan. Mau kemana? Kerja atau lanjut kuliah? Mau kerja apa? Atau mau bisnis apa? Start-up digital business, manufacturing atau services? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sebaiknya muncul di semester akhir pada masa studi. Sambil menyusun tesis, ada baiknya hal-hal sepertinya juga disusun. Jangan sampai ketika sudah menginjakkan kaki di tanah air, bingung mau ke arah mana dan harus melakukan aktivitas apa. Sepertinya yang dilakukan narasumber tempo hari yang melakukan rencana masa depan sebelum pulang ke Indonesia.

Passion merupakan hal yang ambigu bagi fresh graduate dan beginner professionals, selain penting untuk menciptakan perjalanan karir yang nyaman, juga menimbulkan idealitas pandangan seseorang terhadap pekerjaannya yang berujung pada terlambatnya masuk ke dunia karir. Syahrul sendiri menyarankan teman-teman untuk mengesampingkan dulu passion di masa awal pulang di Indonesia dan cobalah jenis pekerjaan atau bidang yang berbeda-beda dengan memanfaatkan fasilitas dan keuntungan menjadi alumni Jerman. Paling ideal itu kita udah tau passion kita dimana dan kita mendapatkan pekerjaan dengan kondisi kerja dan gaji juga baik. Tapi sayangnya butuh waktu untuk menentukan passion dan untuk menemukan pekerjaan yang sesuai passion sekaligus baik secara ekonomi. Karena itu program-program dari pemerintah jerman sangat direkomendasi untuk dicoba sebagai jembatan menuju kondisi ideal itu.

Apa sih fasilitas dan keuntungan menjadi alumni Jerman? Salah satunya disediakan oleh Centre for International Migration and Development (CIM). CIM merupakan lembaga yang jointly run bersama Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) dan the German Federal Employment Agency di bidang Development and Labour Market Policy Expertise, yang menyediakan berbagai fasilitas ketenagakerjaan untuk mahasiswa lulusan Jerman dari negara kerjasama CIM untuk membangun perekonomian negara asalnya. Indonesia merupakan salah satu negara kerjasama. Organisasi ini memiliki berbagai macam program (untuk features dan syarat-syarat umum bisa langsung terjun ke situs).

Pertama, program Returning Expert. Pada awal perjalanan karir di Indonesia, Syahrul bekerja di suatu perusahaan di Jakarta selama 1 tahun, sambil mengisi waktu untuk memanfaat kesempatan “kerja digaji Jerman” melalui program dari CIM ini. Di bawah program CIM Returning Expert, Syahrul bekerja di Bappeda Aceh dengan kontrak 2+1 tahun, dengan top up gaji oleh CIM. Gaji diberikan sebagian kecil oleh instansi bersangkutan dan sisanya diberikan oleh CIM up to 600 euro. Durasi kontrak yang diberikan maksimal 2 tahun dan bsia diperpanjang untuk tambahan 1 tahun jika proyeknya masih membutuhkan waktu dan disetujui oleh CIM. Tidak harus lembaga pemerintah, program ini juga dapat dimanfaatkan bagi yang bekerja di NGO ataupun perusahaan swasta. Meskipun demikian, peluang untuk aplikasi diterima oleh CIM lebih besar jika target pekerjaan atau proyeknya di lembaga pemerintah. Juga tidak harus instansi yang beroperasi di daerah tertinggal atau berkembang, pelamar yang berencana bekerja di daerah maju seperti Jakarta juga bisa mendaftar. Ada trik yang diberikan oleh Syahrul, di mana sebaiknya kita diterima secara informal oleh tempat dimana kita akan bekerja, misalnya di lembaga pemerintah (atau at least sudah membangun komunikasi dengan instansi tersebut), lalu barulah kita mendaftar dengan menghubungi pihak CIM dan memberitahu bahwa kita sudah memiliki lembaga yang menerima kita untuk bekerja, terus informasikan kembali ke instansi bahwa kita bakal di-top-up oleh CIM dan selanjutnya submit SK (surat keterangan diterima oleh lembaga) ke CIM. Teman-teman bisa mendaftar returning expert ini sejak dari penghujung akhir masa studi di Jerman atau dengan kata lain, sebelum home-for-good ke Indonesia, terutama ketika sudah berkomunikasi dengan lembaga/instansi/badan/institusi tujuan di Indonesia.

Kedua, program Business Ideas for Development (BID) yang merupakan program untuk starting-up a business di Indonesia. Keuntungan yang diberikan oleh CIM adalah bimbingan individu dalam merancang business plan, bantuan finansial up to 4500 euro dan networking. Program ini juga sedang dilakukan oleh Syahrul, yang menjalani bisnis di bidang sistem dan teknologi informasi. Saya secara pribadi sangat menyarankan teman-teman untuk mengambil peluang di program ini, karena entrepreneurship merupakan solusi utama dari pemuda Indonesia untuk memajukan negeri kita tercinta yang akan mengalami bonus demografi (i.e. jumlah penduduk usia produktif lebih banyak daripada usia anak-anak dan lansia) pada tahun 2030.

Ketiga, program Diaspora Organization, yang ditujukan kepada orang Indonesia (in our case) yang bekerja atau lulusan kuliah di Jerman yang ingin berkontribusi dalam membangun Indonesia dengan membentuk sebuah organisasi non-profit (i.e. LSM/NGO). Program ini dapat berkontribusi tinggi terhadap pembangunan ekonomi Indonesia secara umum maupun untuk daerah-daerah tertentu, terutama daerah yang tertinggal atau sedang berkembang. Sejauh ini, belum ada teman-teman alumni Jerman (khususnya dari Aceh) yang berpengalaman dalam program CIM ini. Sehingga Syahrul memiliki keterbatasan sumber untuk share “lika-liku” proses aplikasi untuk yang satu ini. Untuk informasi, jenis organisasi yang seperti apa dan syarat apa saja yang harus dipenuhi bisa langsung surf ke situsnya (lihat Referensi).Mungkin bisa langsung dicoba sendiri!

Pada saat on-air diskusi, muncul pertanyaan tentang bantuan dana dari Jerman untuk pengadaan alat (seperti laboratorium items), buku, dan fasilitas lainnya untuk kebutuhan proyek di Indonesia. Menurut Syahrul, pengajuan pengadaan fasilitas bekerja tersebut bisa dilakukan ketika kita sedang dalam salah satu dari ketiga program tersebut. Alat, buku, infrastruktur dan hal-hal lainnya yang dibutuhkan dalam menjalani proyek bisa diajukan ke CIM dan mereka akan memberikan bantuan dana. Tapi tidak untuk funding alat yang tidak membutuhkan dana besar seperti alat-alat tulis, kertas, dan sebagainya, karena CIM berasumsi bahwa top-up gaji yang diberikan sudah cukup untuk meng-cover kebutuhan yang kecil tersebut.

Selain program CIM, alumni Jerman juga dapat memanfaatkan peluang berkarir melalui program “Make it in Germany”. Berbeda dengan program CIM yang mendukung expert lulusan Jerman ke negara asal, program ini ditujukan untuk international qualified professionals (tidak hanya lulusan Jerman, tapi pastinya lulusan Jerman memiliki kesempatan yang lebih besar) untuk mendapatkan kesempatan berkarir, studi dan riset di Jerman dalam jangka waktu tertentu. Indonesia, Vietnam, India, dan China adalah target program ini. Di samping itu, bagi yang ingin bekerja dalam jangka panjang di Jerman, lulusan jerman juga dapat memanfaatkan program Blue Card Visa dan Permanent Residence. Untuk dapat bekerja di Jerman normalnya kita bisa menggunakan visa kerja biasa. Blue Card ini khusus untuk merekrut tenaga ahli dari luar Jerman untuk posisi-posisi pekerjaan yang kekurangan tenaga kerjanya di Jerman. Lebih mudah prosedurnya, lebih cepat, dan mudah juga untuk mendapatkan permanent residence. Untuk info lebih lanjut, bisa langsung cek di situs “EU Blue Card Network”!

Tentunya bagi alumni Jerman yang ingin berkarir di bidang akademi, juga memiliki kesempatan untuk melanjutkan studi di Jerman melalui beasiswa yang ditawarkan oleh DAAD dan juga berbagai lembaga riset di Jerman dengan fokus bidang ilmu tertentu. Alumni berijazah S2 bisa lanjut ke S3 dengan berbagai program beasiswa doctoral dan research grants dari DAAD maupun instansi riset Jerman lainnya. Sedangkan untuk mahasiswa S3 bisa memanfaatkan post-doctoral programs dari DAAD, universitas dahulu, Max Planck Institut atau lembaga riset Jerman lainnya. Khusus bagi lulusan Jerman dengan beasiswa DAAD, ada program Re-invitation Programme for Former Scholarship Holders, yang merupakan beasiswa lanjutan. Untuk penjelasan dan syarat selengkapnya bisa langsung mengunjungi situs DAAD atau googling nama program tersebut.

Dari penjelasan bang Syahrul dalam siaran Asferadio, bisa dilihat kalau banyak fasilitas dari pemerintah jerman untuk perkembangan personal dan profesional kita meskipun sudah berstatus alumni. Sayang banget kan kalo dilewatkan begitu saja. Untuk itu cek detail program-program tersebut di situs di bawah ini ya. Salam sukses! Bangun negeri!

 
Penulis:
Teuku Bahran Basyiran
DAAD-Aceh Batch 8 dan Master Student in Economics, University of Tuebingen
 
 
Referensi:
Asferadio: asferadio.caster.fm
Blue Card: www.make-it-in-germany.com/en/for-qualified-professionals/visa/kinds-of-visa dan www.apply.eu/BlueCard/
CIM: www.cimonline.de
DAAD Scholarship: www.daad.de
Diaspora Organization Programs: www.cimonline.de/en/html/faqs-migrant-organisations.html
Make it in Germany: www.make-it-in-germany.com
Re-invitation Programme for Former Scholarship Holders: https://www.daad.de/deutschland/alumni/foerderprogramm-fuer-auslaendische-alumni/en/37496-re-invitation-programme-for-former-scholarship-holders/
Returning Experts: www.cimonline.de/en/html/returning-experts.html