Suasana di trotoar kota Hamburg, salah satu kota terbesar di Jerman

Sudah menjadi hukum tidak tertulis Indonesia bahwa pejalan kaki adalah warga kelas dua di jalanan. Tidak banyak daerah yang mau ‘membantu’ para pejalan kaki merasa nyaman. Bahkan, di beberapa kota di Aceh yang sudah saya kunjungi, tidak terlihat adanya trotoar yang memang menjadi hak para pejalan kaki. Pejalan kaki harus memiliki ketahanan mental dan fisik untuk bersaing dengan para pengendara kendaraan bermotor dalam memakai jalan. Dalam menyeberang jalan pun pejalan kaki harus ekstra waspada. Sedikit lengah, nyawa bisa melayang. Hal ini tentu sangat berbahaya terutama anak bagi anak kecil.

Sangat berbeda dengan di Jerman, tempat saya tinggal dan kuliah sekarang. Sebagai catatan, Jerman merupakan negara yang sangat terkenal di Indonesia—apalagi setelah rilisnya film “Habibie dan Ainun—terutama untuk kepintaran orang-orangnya. Saya masih ingat petuah guru saya di SMA yang seringkali diulang-ulang selepas shalat Maghrib, “Jadilah kalian orang yang berhati Mekkah, berotak Jerman”. Petuah itu menandakan betapa memang kepintaran orang Jerman begitu diakui. Tidak heran Jerman menjadi negara yang cukup diminati untuk melanjutkan studi. Namun ternyata, selain kepintaran, keteraturan orang Jerman pun patut dijadikan panutan.

Marburg, kota yang sejak beberapa waktu lalu menjadi tempat saya dan beberapa teman dari Aceh mengikuti kursus bahasa Jerman lanjutan, merupakan sebuah kota kecil di Jerman. Terletak tidak jauh dari bandara Internasional Frankfurt, kota ini bisa dicapai hanya dalam tempo 1,5 jam menggunakan kereta. Walaupun berskala kecil, Marburg adalah kota yang sangat teratur. Semua dirancang dengan memperhatikan kenyamanan warga. Semua jenis pengguna jalan dipenuhi hak-haknya oleh pemerintah. Kendaraan bermotor dibuatkan jalan yang bagus, pesepeda diberikan jalur khusus, sedangkan pejalan kaki diberikan trotoar yang luas. Keteraturan memang hal yang sangat diperhatikan di sini. Guru bahasa Jerman saya di Jakarta bahkan pernah berkata bahwa saking teraturnya hidup di Jerman, beberapa orang merasa bosan dan mencari kebebasan di tempat yang tidak terlalu banyak memiliki aturan.

Menyeberang jalan di sini dilakukan melalui dua jenis tempat penyeberangan: lampu penyeberangan dan zebra cross. Jika di daerah kita zebra cross tidak ada gunanya, di sini baru terasa manfaat zebra cross.Penyeberangan melalui zebra cross ini cukup gampang, seberangi saja (bahkan tanpa perlu melihat kiri kanan). Para pengendara di sini sudah paham jika zebra cross adalah hak para pejalan kaki sehingga mereka akan berhenti jika melihat ada yang ingin menyeberang. Selain di zebra cross, tersedia juga lampu penyeberangan. Cukup menekan tombol untuk menyeberang di tiang lampu lalu lintas yang tersedia di sepanjang jalan, tunggu beberapa saat hingga lampu untuk menyeberang berwarna hijau, dan semua kendaraan akan berhenti memberikan ruang untuk para penyeberang melintas.

Sekilas semua terlihat sangat sederhana, namun begitu penting. Adanya keteraturan dalam hal-hal sesederhana inilah yang menunjukkan kemajuan suatu daerah, apalagi negara. Jika hal-hal ‘sekecil’ menyeberang saja diperhatikan, bayangkan untuk hal-hal yang lebih penting.

Saya berharap hal-hal sederhana seperti ini bisa diterapkan di Aceh. Para pejalan kaki yang kesulitan menyeberang akan sangat terbantu jika aturan penyeberangan yang melindungi pejalan kaki seperti ini diaplikasikan (selain membangun trotoar yang nyaman tentunya). Semua orang di Aceh, terutama pemerintah, memiliki kemampuan untuk mewujudkan hal tersebut. Namun memang, terkadang penghalang kita dalam melakukan sesuatu bukanlah ketidakmampuan, tapi ketidakmauan, seperti kata pepatah: “Dimana ada kemauan pasti ada jalan, dimana ada ketidakmauan di situ muncul alasan”. Auf wiedersehen.

Penulis: Reza Fahmi (Mahasiswa jurusan Master of Hydrogeology and Environmental Geoscience di University of Goettingen, Jerman)