Mengintip Pemilu di Jerman

oleh: Yusni Zahara – warga Aceh di Frankfurt
Semarak meriahnya pesta demokrasi Indonesia terasa hingga ke luar negeri. Hajatan empat tahunan yang berlangsung pada tanggal 9 April 2014 menarik perhatian warga negara Indonesia termasuk yang sedang berada di luar negeri. Pemilu di Jerman berlangsung pada tanggal 5 April 2014. Hal ini dikarenakan memudahkan pemilih yang ingin datang langsung ke TPSLN (tempat pemungutan suara luar negeri). Diputuskannya pemilu berlangsung di akhir pekan (tidak di hari kerja) dan sedikit lebih awal dibandingkan dari jadwal di tanah air juga bertujuan mengurangi angka golput di luar negeri. Di Jerman sendiri terdapat tiga TPSLN yang ketiganya bertempat di Kedutaan Besar di Berlin dan dua Konsulat Jenderal di Hamburg dan Frankfurt. Ketua dan anggota PPLN di masing-masing TPS adalah unsur masyarakat yang diusulkan dan atau mendaftarkan diri kepada Kedutaan dan Konsulat Jenderal di wilayah domisili yang bersangkutan.

 

Upaya lainnya untuk memudahkan pemilih yang tinggal jauh dari Tempat Pemungutan Surat Suara Luar Negeri (TPSLN) adalah diberikan pilihan bagi peserta pemilu untuk bisa memberikan suara dengan datang langsung atau mencoblos dengan bantuan pos. Metode mencoblos melalui jasa pos belum pernah dilakukan di tanah air dan cara ini juga diperbolehkan oleh KPU (Komisi Pemilihan Umum). Bagaimana menjaga kerahasiaan surat suara yang dikirimkan via pos? Menjaga keamanan dan kesahan surat suara merupakan komitmen panitia pemilu. Salah satunya dengan cara menerapkan sistem barcode dan Einschreiben. Barcode yang ada pada  kertas C6LN atau undangan pemilih yang dikirimkan kepada pemilih untuk memastikan kesesuaian data yang dimiliki oleh panitia pemilu dan surat suara yang dikirimkan kembali. Sehingga bisa dipastikan jumlah surat suara yang dikirimkan sama dengan jumlah surat suara yang kembali. Sedangkan sistem Einschreiben adalah pengiriman surat suara dengan tanda tangan pemilih. Hal ini juga penting, untuk memastikan surat suara diterima oleh yang berhak. Nah, surat suara yang tidak sampai kepada pemilih baik karena yang bersangkutan pindah alamat tanpa melapor maka surat suara akan kembali kepada jasa pos.

 

PPLN Frankfurt - Pemilu 2014

PPLN Frankfurt – Pemilu 2014

Seluruh surat suara yang telah dicoblos akan disimpan di PO.BOX yang ada di Deutsche Post yang nantinya akan dijemput oleh petugas beserta pengawas pemilu dihari perhitungan suara. Bagi yang ingin memilih langsung ke TPS, maka mereka akan mendapatkan surat undangan sebelum hari pemilihan. Bagi yang tidak tercantum di daftar pemilih tetap (DPT) dibuka kesempatan untuk memilih belakangan mulai jam 15.00 sampai jam 17.00 dengan membawa paspor sebagai identitas Warga Negara Indonesia (WNI).

Kerahasiaan juga terjaga dengan diberikan amplop khusus sesuai dengan ukuran kertas suara tanpa identitas. Saat perhitungan suara, amplop kertas suara dikumpulkan dengan yang lain,kemudian dibuka dan disaksikan oleh seluruh elemen penyelenggara pemilu. Petugas Pemilihan Luar Negeri(PPLN) mengadakan penghitungan surat suara bukan pada hari pencoblosan, yaitu pada tanggal 9 dan 15 April kalau di Jerman. Setiap kotak suara akan disegel dengan tiga kunci untuk menjamin keamanan.

Di luar negeri, khususnya Jerman karakter pemilih memang unik. Kebanyakan dari calon pemilih adalah mereka yang berusia 30-an tahun, yang juga unsur mahasiswa dan pekerja. Mereka rata-rata punya latar belakang pendidikan yang cukup, mendapatkan akses informasi dan bacaan yang cukup pula. Sementara calon legislatif dan peserta pemilu sendiri di luar negeri terlihat jarang melakukan kampanye terbuka, karena memang sulit dari mekanisme perizinan. Alternatifnya, PPLN membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mengetahui segala hal terkait administrasi memilih, mengecek daftar nama di DPT secara online dan mengikuti setiap kegiatan baik yang diselenggarakan oleh KBRI dan KJRI, maupun organisasi masyarakat.