Mengenalkan Aceh Lewat Buku

oleh: Saiful Akmal  (Dosen UIN Ar-Raniry dan Peneliti di Uni. Frankfurt)

 

Paska tsunami 2004 dan MoU Helsinki 2005,  kondisi Aceh secara umum sangatlah menjanjikan dalam banyak hal. Selain dari perkembangan politik dan keamanan, Aceh sedang menuju era dimana rumah penerbitan kecil, pustaka mini dan toko buku mulai bergeliat dan menghidupkan kembali harapan akan pencerahan intelektual dimana narasi tentang Aceh tidak hanya ditulis oleh mereka yang dari luar mengamati Aceh, tapi juga dari perspektif orang-orang Aceh sendiri. Terinspirasi dari kreativitas dan kekritisan anak-anak muda Aceh yang sebagian besar adalah mantan aktivis kampus yang idealismenya cukup tinggi, yang juga merasakan sebuah kebutuhan bahwa masa depan yang bagus harus dibangun dengan ilmu pengetahuan dan kesadaran intelektual, produksi buku dan artifak kebudayaan yang terus digiatkan dan menjamur dimana-mana, saya berkesempatan untuk memberikan presentasi dan ceramah singkat mengenai betapa menjanjikannya produksi narasi dan literatur Aceh paska konflik, dengan tema ‘Aceh Post Conflict Literature: A Promising Future’ dalam pertemuan tahunan dan konferensi Southeast Asian Library Group (SEALG) 2014 bertempat di Pustaka Utama Goethe University of Frankfurt (Uni Bibiliotek) pada hari Jumat kemarin.

 

Dalam makalah yang disampaikan di kumpulan pustakawan dan peminat studi-studi Asia Tenggara, termasuk tentang Aceh dan Indonesia, saya menekankan bagaimana pentingnya aktivitas yang diinisiasi oleh generasi muda terdidik Aceh tersebut dalam menjaga ingatan kebudayaan dan menggali kembali narasi sejarah yang tidak hanya melulu mengenai konflik dan tsunami, tapi juga tentang tema-tema lainnya tentang Aceh. Aceh Institute sebagai lembaga riset yang juga peduli pada produksi dan preservasi ide dalam bentuk penerbitan Jurnal Seumike, buku buku, artikel di koran, penerbitan hasil diskusi ilmiah dan penelitian. Demikian juga Bandar Publishing dengan konsistensinya menerbitkan buku-buku dan monograph tentang Aceh, Toko Buku Dokarim-Aneuk Mulieng Publishing yang tergabung dalam sindikat kebudayaan Komunitas Tikar Pandan juga tidak kalah penting dalam menginisiasi sekolah menulis, yang kemudian melahirkan kumpulan tulisan, buku, Jurnal Kebudayaan dan Gelombang Baru dan memicu munculnya sekolah-sekolah menulis lain seperti Komunitas Jeuneurob atau Seuramoe Tumuleh. Form Lingkar Pena dengan lini produksi mininya Kamoe Publishing juga sudah melahirkan sejumlah antologi cerita pendek dan segmen unik, sama halnya dengan Penerbit Boubon Jaya yang setia dengan produksi buku-buku berbahasa Aceh dan sejarah kepahlawanan klasik Aceh, satu hal yang membuat mereka begitu spesial. Toko Buku Zikra yang menjadi lini komersil yang terus setia menyuplai kebutuhan membaca masyarakat Aceh yang terus meningkat. Termasuk Aliansi Sastrawan Aceh, Lapena dan Yayasan Pena serta yang lain yang sudah membuktikan bahwa wacana keAcehan perlu terus didokumentasikan dan diterbitkan.

 

Terlepas dari beberapa kendala manajerial, komersial, distribusi dan administratif seperti banyak belum terdaftarnya ke IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia), kualifikasi dan keilmuan khusus dibidang penerbitan dan pengarsipan, dukungan pemerintah, kendala teknis dan peralatan yang sangat terbatas, biaya produksi dan lain sebagainya, potensi narasi dan literature Aceh sangatlah menjanjikan. Presentasi ini adalah kelanjutan dari proyek inisiatif ‘Aceh Book Literature 2011’ dimana Departemen Asia Tenggara, Fakultas Bahasa dan Budaya Universitas Frankfurt-Jerman ingin menambah koleksi buku-buku asli yang ditulis oleh orang Aceh, ini juga bisa dikatakan pemanasan menjelang pameran buku terbesar sedunia tahun 2015 kedean dimana Indonesia akan menjadi tamu kehormatan, yang berarti banyak buku-buku terpilih dari Indonesia akan dipamerkan, dibedah dan diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia. Dan buku-buku terbitan Aceh terkendala karena banyak yang belum terdaftar sebaga anggota IKAPI, meski demikian buku novelis Aceh, Arafat Nur (Burung Terbang di Kelam Malam oleh Bentang Pustaka), dikabarkan juga sudah melewati seleksi dan dipilih untuk diterjemahkan ke bahasa asing. Semoga kontribusi ini juga menjadi titik kecil yang penting mengkampanyekan narasi keAcehan dalam perspektif baru dalam upaya menguatkan studi-studi keAcehan di Eropa dan dunia atau Acehnologi.

 

(Saiful Akmal – Frankfurt)