Hubungan international antara Maroko dan Indonesia telah terjalin sejak lama dan memberikan banyak manfaat untuk kedua negara, salah satunya fasilitas bebas visa selama 90 hari bagi warga negara Indonesia untuk berwisata ke Maroko. Hal ini yang menjadi pertimbangan saya untuk mengunjungi salah satu negara di Afrika Utara tersebut. Sejak awal menginjakkan kaki di Jerman, nama Maroko tidak pernah terpikirkan sebagai destinasi yang wajib dikunjungi. Namun setelah mendapat informasi tentang bebas visa dan rekomendasi dari beberapa teman, saya memutuskan untuk mengunjungi Maroko pada Desember 2016 yang lalu.

Perjalanan saya dimulai dari Berlin pada tengah malam, dilanjutkan transit di Madrid dan akhirnya sampai di Marrakech, salah satu kota tujuan utama untuk wisatawan yang ingin mengunjungi Maroko pada pukul 07.00 pagi waktu Maroko. Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Maroko, semua hal terlihat menakjubkan karena selama setahun terakhir saya lebih banyak melakukan perjalanan di Eropa. Dibandingkan dengan negara-negara di Eropa, Maroko cukup mengingatkan saya dengan situasi di Aceh, Indonesia. Suasana, cara berpakaian warga lokal, lokasi wisata dan masih banyak hal lain yang mengingatkan saya tentang kehidupan di Aceh.

 

Suasana bersahaja yang mengingatkan akan kampung halaman

Suasana bersahaja menyambut kedatangan saya

Hari pertama, saya dan 2 orang teman saya melakukan tur kota di Marrakech untuk mengunjungi beberapa tempat wisata setelah terlebih dahulu bersiap di hostel yang telah kami pesan jauh hari sebelum keberangkatan. Kami mengunjungi La-Koutoubia, mesjid tua yang legendaris di Maroko, mungkin bukan yang terbesar tapi desain mesjid ini sangat menarik dan benar-benar menunjukkan bagaimana mereka memelihara kemegahan budaya Islam. Selanjutnya kami mengunjungi Jema El-Fna Souq, pusat kota Marrakesh yang dijadikan pasar utama bagi penduduk setempat. Tersedia banyak sekali makanan dan minuman khas maroko di tempat ini seperti Tagine (sejenis gulai atau kari), Harira (sup), Couscous, teh khas Maroko dan banyak lainnya.

 

Tagine dan Harira

Hari ke 2 saya melakukan tur sehari menuju Essaouira, salah satu kota pelabuhan yang terkenal karena menjadi salah satu scene dalam film serial Game of Thrones. Suasana kota pelabuhan benar-benar kental terasa. Dengan tur singkat bersama warga lokal kami mengetahui banyak hal menarik tentang kota ini. Rupanya Essaouira juga terkenal dengan mebel kayunya. Selain itu, jangan lewatkan santapan ikan segar yang sulit dilupakan. Menurut saya, Essaouira merupakan salah satu kota yang wajib dikunjungi jika sedang berwisata di Maroko.

Kota pelabuhan yang terkenal

Keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan dengan Tur Sahara selama 3 hari 2 malam. Hari pertama kami mengunjungi Ait Ben Haddou yaitu salah satu kota peninggalan sejarah yang banyak dijadikan latar pada film film Hollywood seperti Gladiator dan Game of Thrones. Keesokan harinya kami mengunjungi Todra Gorge yang merupakan lembah indah di tengah maroko dan melakukan camel ride di salah satu gurun terkenal yaitu Erg Cherbi saat sunset, pengalaman yang sangat luar biasa. Malam harinya kami bermalam di tenda ala Berber (salah satu suku lokal yang ada di Maroko) dan menikmati suguhan makanan lokal. Menjelang matahari terbit kami kembali melakukan camel ride menjelajahi Erg Cherbi sekaligus kembali ke Marrakesh.

Keseruan menjelajahi gurun dengan unta

Hari terakhir di Marrakesh kami melakukan tur singkat kembali untuk mengunjungi Bahia Palace yaitu sebuah kompleks bekas istana yang sangat khas dan Menara Garden, taman yang biasa dijadikan warga Marrakesh untuk bersantai bersama keluarga di sore hari.

Pemandangan meneduhkan di sore hari

Hari ke-7 kami melanjutkan perjalanan menuju Fez, kota tua yang juga menjadi favorit para turis. Keunggulan kota ini adalah penyamakan kulit yang sangat kuno dan menjadi salah satu peninggalan yang dilundungi UNESCO. Kota ini juga terkenal dengan karpet dan pernak-pernik khas Maroko. Jika ingin mencari oleh-oleh berkualitas baik, di kota inilah tempatnya. Keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan menuju kota lain yang tak kalah indahnya, Chefchaouen. Secara ukuran kota ini merupakan sebuah desa yang terletak di pegunungan dan bangunannya didominasi oeh warna biru sehingga kota ini sangat menarik dan merupakan obyek yang wajib dikunjungi untuk menambah koleksi gambar dengan latar eksotis.

Ciri khas beruba bangunan berwarna biru, cocok untuk para Instagrammers

Memasuki hari ke-9 kami berangkat menuju Rabat, salah satu kota metropolitan di Maroko. King Mohammed Mausoleum (makam salah satu raja Maroko) dan Boulevard Mohammed V menjadi tempat yang wajib dikunjungi di kota ini. Sebelum kembali ke Berlin, saya memutuskan untuk mengunjungi Casablanca. Di Casablanca saya mengunjungi mesjid kedua terbesar di dunia yaitu Hassan II Mosque. Posisi mesjid ini yang berada tepat di pinggir pantai menjadikan mesjid ini sangat indah. Perjalanan Casablanca dan Rabat dapat ditempuh selama 2 jam dengan menggunakan kereta. Sehingga malam harinya kami dapat kembali menuju Rabat Airport.

Perjalanan selama di Maroko sangat luar biasa. Banyak sekali pengalaman baru yang tidak pernah terpikirkan dapat kami lakukan disana salah satunya camel ride di gurun Erg Cherbi. Penginapan dan makanan di Maroko relatif murah jika dibandingkan dengan Eropa sehingga dengan budget pelajar pun sudah sangat cukup untuk berwisata ke negara ini. Bahasa yang digunakan oleh penduduk Maroko adalah Arab, Perancis dan sedikit Inggris. Meskipun demikian, secara keseluruhan cukup mudah untuk berkomunikasi disini karena mereka sudah terbiasa berinteraksi dengan turis. Dengan tetap menjaga kewaspadaan terhadap tindak kejahatan dan intimidasi dari penjual saat berbelanja, Maroko menjadi salah satu tempat wisata yang menakjubkan. Bagi mahasiswa yang sedang studi di Eropa, Maroko dapat dijadikan destinasi alternatif untuk berwisata.

Salam.

~Ditulis oleh Fachruddin Zainal, mahasiswa master di Technische Universitat Berlin