Kenapa Kuliah di Jerman Berbeda?

Beberapa dekade silam, para pendatang dari Indonesia tiba di Jerman melalui jalur pelayaran.  Arus migrasi penduduk Indonesia ke Jerman memang melalui pintu masuk pelabuhan. Tidak heran sampai sekarang pun, kota-kota pelabuhan besar seperti Hamburg memiliki komunitas Indonesia yang lebih besar dibandingkan kota lain.

Di era milenial ini, penduduk Indonesia yang tinggal di Jerman berasal dari latar belakang beragam, tidak lagi hanya pelaut. Mulai dari keluarga Indonesia yang menetap karena alasan studi atau pekerjaan, atau ada juga yang telah berkeluarga dengan penduduk Jerman dan mendapatkan kewarganegaraan, belum lagi yang mengikuti program budaya seperti Au Pair, short course, dan lainnya. Tentu tidak lupa golongan pelajar yang mencari kualitas pendidikan dan kemungkinan karir ke depan yang lebih baik (dan sepertinya merupakan mayoritas penduduk Indonesia di Jerman saat ini). Tidak hanya menarik bagi pelajar Indonesia, Jerman juga menjadi tujuan studi banyak pelajar dari negara lain, mulai dari China, India, Kamerun, sampai Jepang.  Bahkan ada kota di Jerman yang terkenal dengan banyaknya orang Jepang yang menetap, yakni di Dusseldorf.

Mungkin menarik untuk kita simak, perbedaan dasar dalam sistem dan budaya pendidikan di Jerman dan Indonesia. Dalam pandangan saya, ada beberapa poin penting yang menarik untuk disimak.

Pertama, jenjang pendidikan. Berbeda dengan di Indonesia, jenjang pendidikan di Jerman lebih spesifik dan sistematis. Dari mulai sekolah menengah ke atas, para siswa di Jerman sudah dapat memilih penjurusan bidang studi yang nantinya akan menjadi landasan untuk mereka menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Tentu berbeda dengan Indonesia yang hanya mengenal sistem sekolah kejuruan dan sekolah menengah atas saja. Ini juga salah satu alasan mengapa adanya prosedur khusus untuk para pelajar Indonesia yang ingin melanjutkan studi strata-I di Jerman. Namun saya tidak akan membahasnya terlalu jauh karena porsi tulisan di situs web ini terbatas.

Berikutnya, sistem absensi. Hal yang paling kentara adalah tidak berlakunya sistem absensi dalam menghadiri perkuliahan. Walaupun selama satu semester kita tidak pernah sekalipun hadir ke perkuliahan, kita akan tetap bisa mengikuti ujian dari pelajaran tersebut. Tentu ada pula dosen yang mewajibkan kehadiran, terutama yang berkaitan dengan praktik.

Lalu sistem perkuliahan. Terlepas dari sistem perkuliahan tutorial atau kuliah umum yang sering ditemukan di Indonesia, adanya beberapa sistem perkuliahan yang berbeda, seperti Block-Course yang diterapkan oleh beberapa mata kuliah selama semester berlangsung. Block-course merupakan sistem perkuliahan yang biasanya dilakukan di akhir pekan, Jum’at, Sabtu, bahkan Minggu secara penuh dari pagi sampai sore. Seringnya hal ini dilakukan jika dosen pelajaran bersangkutan merupakan dosen tamu yang diundang dari luar kampus. Jadi, daripada tiap minggu dosen tersebut ke kampus dari tempat yang jauh, dibuatlah sistem yang memungkinkan pelajaran disampaikan dalam dua hari saja.

Tak kalah pentingnya: ujian. Berbeda dengan di Indonesia, dimana ujian adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya secara mutlak, di Jerman sistem ujiannya berbeda. Pertama, pelajar yang harus mendaftar, biasanya maksimal seminggu sebelum ujian berlangsung. Ada beberapa universitas yang memperbolehkan mahasiswa memilih untuk mendaftar dari tanggal pertama atau tanggal kedua ujian. Ada juga yang mewajibkan untuk mendaftar pada ujian pertama, ujian kedua hanya untuk yang berhalangan karena sakit atau tidak lulus. Selanjutnya, jika tiba-tiba tidak bisa menghadiri ujian, maka pembatalan bisa dilakukan 24 jam sebelum ujian berlangsung. Mendaftar tapi tidak hadir tanpa pemberitahuan sama dengan tidak lulus. Lumrah juga terjadi, jika soal ujian terlalu susah, pelajar di sini meninggalkan ruang ujian tanpa menulis apapun di kertas ujian. Tidak terlihat adanya rasa menyesal tidak bisa menyelesaikan ujian.

Perbedaan lainnya adalah begitu bebasnya cara berpakaian dan berperilaku, baik mahasiswa maupun dosen. Tidak jarang terlihat dosen hanya mengenakan celana pendek dan sendal jepit ketika mengajar di musim panas. Atau mahasiswa mengangkat kaki ke atas kursi sambil bertanya pada dosen. Hal ini tentu tidak bisa dibayangkan terjadi di Indonesia. Mahasiswa atau dosen yang melakukan hal seperti itu bisa dicap kurang sopan.

Seperti kata pepatah, lain padang lain belalang, begitu pula budaya pendidikan ini. Bukan berarti budaya di sini patut diterapkan di Indonesia.

Sistem pendidikan tentu juga dipengaruhi oleh budaya setempat.

Lepas dari banyaknya perbedaan dalam sistem pendidikan di Indonesia dan Jerman, negara asal para ilmuwan terkemuka di dunia ini tetaplah menjadi salah satu tujuan studi untuk para pelajar dari tanah air. Ini tentunya subjektif dari hasil pengamatan saya, melihat wajah-wajah baru dari tanah air yang selalu bertambah setiap semester baru.

Penulis: Reza Fahmi (Mahasiswa jurusan Master of Hydrogeology and Environmental Geoscience di University of Goettingen, Jerman)