Interview: Beasiswa “DAAD-Aceh Scholarships of Excellence” bersama Ibu Muji Rahayu, DAAD Jakarta

Beasiswa DAAD (Deutscher Akademischer Austauschdienst) mungkin merupakan salah satu beasiswa paling prestisius di Jerman. Bagi kalangan pelajar Indonesia sendiri, mendapatkan beasiswa DAAD merupakan sebuah pencapaian yang sangat luar biasa. Kompetisi yang ketat dengan pelajar dari berbagai daerah, ditambah dengan batasan dari DAAD yang sangat ketat dalam seleksi. Meski demikian, tidak banyak yang tahu bahwa beasiswa DAAD memiliki banyak platform pembiayaan, tidak hanya program reguler. Melalui program-program yang dicanangkannya. Seperti beasiswa untuk riset, kunjungan studi, pertukaran pelajar, untuk dosen, dan sebagainya. Salah satu bentuk program beasiswa DAAD yang sangat lokal di Indonesia, adalah program beasiswa DAAD-Aceh Scholarships of Excellence (ASFE).

Meski sudah berlangsung lama, masih sedikit pelajar dan mahasiswa di Aceh terutama yang tahu seluk-beluk beasiswa ini. Maka dari itu, pada kesempatan kali ini, Rakan IMAN menyajikan wawancara dengan penanggung jawab beasiswa DAAD-ASFE, Ibu Muji Rahayu.

  
Sudah berapa lama Ibu Muji mengurus beasiswa ini?
Saya mulai mengurus program ini sejak awal program ini ada di tahun 2009 awal. Jadi sudah 9 tahun.
  
Bisa diceritakan sedikit, bagaimana sejarah sehingga beasiswa ini bisa terbentuk?

Sejarah program beasiswa ini sebenarnya tidak terlepas dari peran para alumni DAAD. Tahun 90 akhir dan 2000an awal beberapa dosen dari Unsyiah dan UIN Ar-Raniry (saat itu masih IAIN Ar-Raniry) berhasil mendapatkan beasiswa reguler DAAD untuk program doktoral. Dari sinilah awal mulanya networking terbentuk.

2005-2008: Setelah bencana tsunami Aceh, DAAD dipercaya untuk menyalurkan bantuan tsunami dari beberapa institusi di Jerman dalam bentuk sur place scholarship. Untuk penyaluran beasiswa tersebut, kami pun berkoordinasi dengan rektorat dan alumni DAAD di Aceh untuk mendapatkan data mahasiswa yang terkena dampak langsung tsunami.

2006: DAAD juga menyetujui pemberian bantuan alat untuk beberapa jurusan di Universitas Syiah Kuala dan bantuan buku bahasa Jerman untuk UIN Ar-Raniry.

2008: beberapa alumni DAAD di Aceh mulai menghubungi DAAD Jakarta untuk menjajagi kemungkinan kerjasama dalam bentuk program beasiswa. Pemerintah Aceh berkomitmen untuk mengalokasikan bagian APBD-nya untuk pengembangan SDM/capacity building provinsi Aceh melalui berbagai program beasiswa.

April 2009: MoU antara DAAD dan Pemda Aceh ditandatangani di Jakarta. Kedua pihak sepakat untuk menjalankan program beasiswa “DAAD-Aceh Scholarships of Excellence”.

  
Mahasiswa/mahasiswi seperti apa yg dicari untuk program ini?

Persyaratan yang diminta dalam program DAAD-Aceh Scholarships of Excellence mengacu ke aturan umum yang berlaku di DAAD, namun bedanya untuk beasiswa Aceh, kandidat tidak diharuskan sudah memiliki LoA pada saat melamar. Seleksi pertama dilakukan dengan melihat kelengkapan berkas, melihat kriteria-kriteria formal seperti GPA, akreditasi, hasil tes Inggris dsb. Mereka yang memenuhi syarat akan diundang untuk interview. Tim penguji didatangkan langsung oleh DAAD Jakarta. Banyak aspek yang dilihat selama interview seperti hasil akademis, kepribadian, kemampuan bahasa Inggris, pengetahuan mengenai Jerman, motivasi dan untuk kandidat S3 salah satu faktor penting adalah proposal riset dan feasibility dari rencana riset tersebut.

  
Apakah ada tips dan trik untuk lolos beasiswa ini?

Pada saat interview, motivasi harus bisa ditunjukkan secara jelas. Kandidat harus mengetahui apa yang ingin dicapainya. Pengetahuan bidang yang menunjang untuk studi lanjut di Jerman dan kemampuan bahasa Inggris juga sangat penting pada saat interview.

  
Apa yang menarik dari beasiswa DAAD-Aceh Scholarships of Excellence?

Program beasiswa ini merupakan program beasiswa yang sangat menarik dan sejauh ini menjadi satu-satunya program kerjasama yang kami miliki dengan pemerintah daerah di Indonesia dan sudah berlangsung cukup lama (sampai 2017 sudah ada 133 yang didanai oleh program ini). Banyak sekali manfaat yang bisa didapat melalui program ini, baik pada saat masih menjadi penerima beasiswa maupun setelah menjadi alumni. Mereka yang sudah menjadi alumni program Aceh, secara otomatis menjadi alumni DAAD, yang bisa menikmati fasilitas-fasilitas sebagai alumni seperti melalui program kunjungan kembali ke Jerman (2-3 bulan untuk penelitian), program bantuan alat, program untuk mengadakan seminar alumni, maupun program bantuan buku. Tidak jarang, para alumni diundang untuk mengikuti acara seminar/workshop baik yang dilaksanakan di dalam negeri maupun di luar negeri.

  
Kelengkapan berkas apa saja yg harus disiapkan sejak dini?

Yang perlu disiapkan awal misalnya motivation letter, ijazah dan transkrip nilai (bahasa Indonesia dan Inggris), surat rekomendasi dan sertifikat bahasa Inggris. Dokumen lain pun tidak kalah penting seperti CV dan formulir aplikasi. Mengacu pada pengalaman, akreditasi jurusan sangat penting pada saat melamar ke universitas (min. B). Adanya surat keterangan mengenai akreditasi dari kampus terkait akreditasi jurusan dari BAN-PT akan sangat membantu pada saat proses aplikasi ke universitas nantinya.

  
Apa saja kendala yang dihadapi calon penerima beasiswa sebelum bisa berangkat ke Jerman?

Sebenarnya kendala yang cukup berarti tidak ada, hanya dalam beberapa kasus, pilihan program studi dengan bahasa pengantar Inggris yang tidak terlalu banyak, sementara bila memilih yang berbahasa pengantar bahasa Jerman, persyaratan bahasa Jerman tidak mencukupi saat melamar.

  
Apakah ada pengalaman-pengalaman unik selama mengurus program beasiswa DAAD-Aceh?

Untuk saya pribadi, program DAAD-Aceh merupakan program yang sangat luar biasa. Begitu banyak potensi SDM di Aceh yang bisa dikembangkan. Satu hal yang sangat istimewa menurut saya adalah ikatan antara para penerima beasiswa dan alumni yang begitu kuat. Kakak-kakak angkatan yang senantiasa mau berbagi pengalaman dengan adikadik angkatan melalui WA grup maupun melalui forum IMAN. Belum lagi bila ada angkatan yang baru datang kakak-kakak angkatan senantiasa berkenan untuk membantu. Luar biasa sekali. Banyak juga alumni yang sangat aktif. Bila DAAD mengadakan acara di Aceh, animonya sangat besar.

  
Apa yang diharapkan DAAD dari penerima beasiswa ini setelah lulus?

Sesuai dengan tujuan dari program DAAD-Aceh sebagai salah satu program pengembangan SDM provinsi Aceh, tentunya Pemda Aceh dan DAAD berharap bahwa nantinya para alumni dapat berkontribusi terhadap perkembangan provinsi Aceh. Mengingat pendidikan merupakan sebuah investasi jangka panjang, saya sangat percaya bahwa dalam beberapa tahun ke depan hasil tersebut akan sangat terasa dan terlihat.