(Event) Buka Puasa Bersama IMAN 2017

‘‘…Merantaulah, kau akan menemukan pengganti dari teman-teman yang kau tinggalkan …..‘‘

Salah satu penggalan syair dari imam Syafi’i di atas selalu bisa dijadikan motivasi untuk para perantau dalam mengarungi pahit manisnya hidup di perantauan. Mulai dari budaya yang berbeda, kesulitan keuangan, sampai rasa rindu yang membuncah di dalam dada bisa membuat orang di perantauan merasa tidak nyaman. Namun begitulah, seperti kata imam Syafi’i, ada saja pengganti dari hal-hal yang (terpaksa) kita tinggalkan nun jauh di kampung halaman. Hal yang paling terasa berbeda adalah suasana berpuasa di bulan Ramadhan. Untuk mengobati rasa rindu terhadap suasana berbuka puasa di kampung halaman, IMAN (Ikatan Mahasiswa Aceh di Jerman) mengadakan acara buka puasa bersama di bulan puasa tahun 1438 H.

Pada tanggal 03.06.2017 s.d. 05.05.2017, bertepatan dengan hari ke-8 sampai 10 puasa, IMAN melaksanakan buka puasa bersama/bukber di Karlsruhe.Bukber ini merupakan salah satu wadah yang diinisiasi sebagai sarana untuk bersilaturrahim bagi warga Aceh yang berada di Jerman, selain tentu untuk memuaskan diri memakan masakan khas Aceh bagi yang tidak lihai memasak seperti saya:). Peserta bukber ini berdatangan dari seluruh penjuru Jerman, mulai dari Hamburg yang terletak di utara sampai Passau yang berada di perbatasan Jerman-Austria.  Mengingat Karlsruhe terletak di bagian selatan Jerman, perjalanan paling jauh ditempuh dari Hamburg menggunakan kereta regional, mencapai 11 jam dengan beberapa kali berganti kereta. Semua rasa lelah di perjalanan terobati dengan hangatnya suasana berbuka puasa bersama teman sekampung di perantauan. Selain anak IMAN, peserta bukber kali ini juga termasuk orang-orang teman serumah kak Mutia yang kami tumpangi. Rumah tersebut merupakan rumah yang memang diisi oleh orang-orang Indonesia.

Para wisatawan berfoto di depan ikon kota Karlsruhe

Acaranya sendiri terdiri dari dua acara penting: bukber dan jalan-jalan. Kepala koki kali ini dipercayakan kepada koki yang sudah terkenal di kalangan anak IMAN: Mutia Razali, mahasiswa doktoral di Karlsruhe. Jangan diragukan kemampuan memasak kakak yang satu ini. Semua bahan masakan bisa dicampur menjadi sebuah mahakarya untuk dimakan. Hari pertama beliau menyuguhi bubur kanji sebagai makanan khas, sedangkan pada hari kedua menu khas berupa ‘Sie asam Keu‘eng‘. Kedua makanan utama tersebut dipadukan pula dengan salad buah dan martabak telur yang menggugah selera. Entah berapa lama waktu yang digunakan beliau untuk bisa ahli memasak seperti saat ini. Rasa rindu akan masakan Aceh pun sedikit terobati dengan menyantap makanan yang disajikan oleh beliau.

Aneka takjil khas Aceh maupun khas Indonesia menemani acara buka puasa bersama IMAN

Kanji rumbi, bubur khas Aceh yang dapat ditemukan hanya sepanjang Ramadhan

Sambal Daun Peugaga. Sambal khas Aceh yang dibuat dari daun peugaga dicampur dengan bumbu dan rempah lainnya

Acara hari pertama 03.06. didominasi oleh nonton bareng. Pada malam ini, juara Liga Champions Eropa musim 2016/2017 antara Madrid vs Juventus akan bisa diketahui. Lewat permainan brilian yang ditunjukkan oleh Cristiano Ronaldo, Real Madrid bisa menundukkan Juventus dengan skor 4-1. Setelah berbuka, diadakan acara shalat taraweh bersama yang diimami oleh Muhammad Nawawi, sang imam dari Turki. Sebelum shalat taraweh dimulai, ada sepatah-dua patah kultum dari Mufti Ali Nasution, mahasiswa doktoral dari Kaiserlautern.

Tanggal 04.06. merupakan acara utama  yakni jalan-jalan. Acara ini diputuskan untuk dilakukan di kota Heidelberg, sebuah kota yang merupakan kota yang terkenal sebagai kota pelajar sekaligus kota turis. Tidak heran di hari minggu beberapa toko  tetap buka walaupun di sebagian besar Jerman semua toko akan tutup pada hari Minggu (kecuali restoran) . Penampakan hari Minggu di pusat kota pun begitu ramai dengan turis dari Asia. Bagi yang penasaran bagaimana penampakan kota Praha (Prague) di Ceko, tidak ada salahnya juga mengintip kota ini. Bisa dibilang kota ini merupakan ‘Praha KW‘ karena penampakan kota yang berjejer jembatan-jembatan seperti di ibukota Ceko tersebut. Sangat disarankan untuk naik ke kastil yang berada di ketinggian kota. Kastil tersebut bisa dicapai dengan berjalan kaki atau naik trem dengan membayar €4-€7 sekali perjalanan. Bagi yang memiliki banyak waktu, dan ingin diet, disarankan untuk jalan kaki sekalian menikmati pemandangan. Indahnya kota Heidelberg ini bisa dilihat dari kastil tersebut. Waktu terbaik untuk menaiki kastil ini adalah ketika sore hari dan matahari akan tenggelam. Keindahan kota dipadukan warna sinar mentari yang merona merah merupakan sebuah perpaduan yang rasanya akan sulit dilupakan.

Keindahan kota Heidelberg yang memikat para wisatawan dari berbagai negara

Hari ketiga, 05.06. merupakan hari ketika banyak yang kembali ke kediaman masing-masing karena kesibukan yang menaungi. Ada yang harus menyelesaikan presentasi, ada yang besoknya harus segera kuliah, dan sebagainya. Dengan begitu, berakhirlah rangkaian acara ‘‘Buka bersama IMAN‘‘ kali ini. Sampai jumpa di acara berikutnya. Semoga di acara serupa berikutnya makin banyak anak-anak IMAN yang bisa menghadiri.

Mahasiswa Aceh dari segala penjuru Jerman berfoto bersama selepas acara

~Ditulis oleh Reza Fahmi, mahasiswa Master of Hydrogeology and Environmental Geoscience di Georg-August-Universität Göttingen

~Link video YouTube: https://youtu.be/WOIM_sE0ZG0