Bisakah Dokter Kuliah Master di Jerman?

Ketika saya mulai kuliah di Jerman, ini adalah pertanyaan tipikal yang sering saya hadapi. Jujur saya akui bahwa mencari jurusan master untuk lulusan fakultas kedokteran dari Indonesia di Jerman tidak mudah. Di Jerman, pada umumnya dokter mengambil residensi setelah menyelesaikan pendidikan kedokteran (humanmedizin). Namun residensi di sini, sebagaimana di banyak negara lainnya, terhitung sebagai pekerjaan yang dibayar oleh rumah sakit. Residen atau dokter umum yang dalam pendidikan spesialis dianggap sebagai staf. Proses perekrutannya pun mirip proses perekrutan pekerjaan, mulai dari melamar, wawancara, magang singkat atau menjadi guest doctor, hingga menjadi residen atau asistenarzt.

Ini sedikit berbeda dengan di tanah air. Di Indonesia, dokter bisa melanjutkan pendidikan master di bidang apa saja yang berhubungan dengan kesehatan dan pernak-perniknya. Misalnya bidang mikrobiologi, neurosains, kandungan, atau bahkan manajemen rumah sakit atau kesehatan. Prinsip ini sangat berbeda dengan sistem yang berlaku di Jerman.

 

Spesifiknya Pendidikan di Jerman

Hal terpenting yang perlu dipahami, bahwa spesifikasi pendidikan di Jerman sudah dimulai dari masa Bachelor/S1, bahkan dari SMA. Setiap mata kuliah yang ada di jenjang master merupakan lanjutan dari bidang di S1, meski tidak tertutup untuk menerima lulusan dari bidang lain. Namun spesifisitas itu menjadi sebuah tantangan bagi para pelajar Indonesia yang ingin melanjutkan bidang masternya di Jerman, terutama yang sebelumnya menempuh pendidikan kedokteran.

Misalnya master di bidang cardiology. Meski sepintas mirip dari segi nama dengan pendidikan spesialis cardiology, ada perbedaan besarnya. Master di bidang cardiology atau jantung di sini sangat berfokus pada tingkatan sel dan interaksi antara sel-sel jantung. Sehingga untuk melanjutkan master di bidang ini, diperlukan pemahaman yang sangat kuat di bidang biologi, biofisika, dan hal-hal lain yang berkaitan.

Demikian juga dengan jurusan mikrobiologi. Meskipun jurusan mikrobiologi terdengar familiar bagi para dokter di Indonesia, tapi untuk melanjutkan pendidikan master di bidang ini di Jerman, diperlukan pengetahuan yang luas di bidang biologi molekuler, biokimia, dan hal-hal lain yang sangat penting menyangkut riset. Sebab umumnya bidang ini menjadi lahan riset.

Bukan berarti tidak ada dokter di Jerman yang mengambil bidang riset. Apapun spesialisasinya, setiap dokter di sini dapat fokus ke bidang riset. Ini dikarenakan majunya teknologi kedokteran di Jerman. Selain itu, dari masa bachelor atau S1, calon dokter di sini mendapatkan modul sains murni yang sangat banyak sebagai bekal untuk riset, seperti biologi, matematika, fisika, dan kimia dan lanjutannya seperti biofisika, biokimia, dan seterusnya.

Di Indonesia sendiri, riset belum mendapat porsi sebanyak di Jerman. Wajarlah kalau para dokter di Indonesia tidak mendapat bekal riset sebanyak dokter di sini.

 

Pendidikan Kedokteran=Tidak Linear untuk Kuliah Master?

Beberapa tahun silam, lulusan pendidikan dokter (human medicine) diakui setara dengan tingkat master di Jerman. Sehingga para dokter bisa langsung melanjutkan ke jenjang PhD atau doktoral. Namun beberapa tahun terakhir ini Jerman memperlakukan kebijakan yang lebih ketat untuk lulusan dokter dari luar Jerman. Konsekuensinya, lulusan dokter yang sebelumnya tidak menamatkan pendidikan dokternya tidak lagi mendapatkan hal istimewa itu. Tetap harus mengambil master, baru bisa melanjutkan ke jenjang PhD.

Pengalaman saya dan teman sesama dokter ketika melamar ke banyak jurusan di Jerman, salah satu alasan penolakan yang kami dapatkan dari pihak kampus adalah tidak linearnya jurusan yang kami pilih dengan latar belakang pendidikan kami sebagai dokter. Padahal dilihat sepintas, jurusan-jurusan itu adalah jurusan yang sangat berkaitan dengan dunia kesehatan: gizi, mikrobiologi, biologi molekuler, neurosains, kardiologi… Tapi, lagi-lagi kembali ke pembahasan sebelumnya, modul pendidikan kedokteran di Indonesia rupanya belum memiliki latar belakang yang kuat di bidang itu. Banyaknya mata pelajaran yang ´miss´ dalam standar Jerman. Hal ini menjadikan sulitnya dokter untuk mendapatkan LoA (Letter of Acceptance) untuk melanjutkan kuliah master di Jerman. Bukan hanya saya, ini juga dikeluhkan oleh para dokter dari beberapa universitas negeri lainnya di Indonesia.

 

Kuliah Master untuk Para Dokter di Jerman

Mengambil pendidikan master bagi para dokter di Indonesia menjadi sebuah alternatif, bagi para dokter yang lebih menggemari dunia akademisi daripada dunia klinis yang sedang carut marut di tanah air. Meski terlihat sulit sekilas, sebenarnya ada beberapa jurusan yang terbuka untuk para dokter yang ingin melanjutkan master.

Pertama, jurusan Public Health. Jurusan ini terbuka untuk semua lulusan ilmu kesehatan. Tidak hanya dokter, tapi juga perawat, bidan, atau yang sudah menempuh S1 di bidang ini. Nama dari jurusan ini bisa berbeda-beda tergantung universitas tujuan. Positifnya, banyak universitas menawarkan master untuk jurusan ini sebagai international program dengan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar.

Kedua, jurusan kedokteran olahraga. Pengalaman saya dan beberapa teman, jurusan ini juga termasuk jurusan yang terbuka untuk menerima lulusan kedokteran dan praktisi kesehatan lainnya seperti perawat, bidan, atau fisioterapis. Saya pernah mendapatkan LoA di jurusan ini dari Universitas Postdam. Sedangkan seorang teman saya yang juga dokter sudah menamatkan pendidikannya di jurusan ini, di Friedrich-Alexander University (FAU) Erlangen-Nürnberg.

Namun, bagaimana jika punya ketertarikan di luar kedua bidang ini, seperti neurosains, mikrobiologi, atau biologi molekuler?

Bukan tidak mungkin untuk kuliah di jurusan-jurusan tersebut. Namun penting untuk memperhatikan baik-baik keterangan tentang program, terutama bagian “Requirements”. Beberapa program sangat strict dengan batasan modul yang harus sudah dipelajari di S1, sedangkan beberapa program lainnya lebih fleksibel.

Contoh Academic Requirements yang harus jadi perhatian, biasanya dokter yang sudah menyelesaikan koass atau clerkship ditulis sebagai “Human Biology or Medicine (2nd State Examination)”

Saya sendiri saat ini kuliah di jurusan Infection Biology di Universität zu Lübeck, sebuah universitas dengan basis penelitian di utara Jerman. Saya akui bahwa saya menemui banyak kesulitan dalam proses pembelajaran, terutama karena sistem pendidikan yang sangat jauh berbeda antara Jerman dan Indonesia, serta banyaknya mata pelajaran yang tidak saya dapatkan dalam pendidikan dokter dahulu.

Lalu, kembali lagi ke pembahasan di atas, kok saya bisa diterima di jurusan ini? Mungkin ini salah satu faktor yang penting dibahas. Selain memenuhi Requirements yang memang lulusan pendidikan dokter masuk ke dalamnya, universitas saya ini adalah universitas kedokteran, biasanya ditulis dengan Uni(med), yang seluruh kontennya hanya untuk kedokteran dan pengembangannya. Nah, universitas ini biasanya lebih terbuka untuk para dokter yang ingin melanjutkan pendidikan atau melakukan riset.

Di Jerman, universitas seperti ini cukup banyak, mungkin bisa dilihat sendiri, baik di Google atau menggunakan laman pencarian dari DAAD:
https://www.daad.de/deutschland/studienangebote/international-programmes/en/

Pada akhirnya, berusaha yang terbaik dan berdoa saja. Jangan lupa juga dengan kelengkapan berkas, CV yang meyakinkan, dan juga faktor lain yang bisa mendukung untuk diterima. Kalau ditolak, jangan menyerah! Coba lagi yang lainnya. Selalu ada jalan menuju Jerman.

 

~Ditulis oleh Ade Oktiviyari
Dokter Umum dan Mahasiswa S2 di Jurusan Master of Infection Biology, Universität zu Lübeck.
www.instagram.com/adeoktiviyari