Kota Ilmenau difoto dari puncak Kickelhahnturm (861 mdpl)

Temperatur digital di telepon seluler saya menunjukkan angka 2 derajat Celcius, Selasa (14/3) dini hari itu. Saya dan dua orang teman, Muki dan Mimi, telah berencana sejak lama untuk menyaksikan matahari terbit sekaligus menikmati suasana pagi dari Kickelhahn, puncak tertinggi kota tempat saya tinggal saat ini, Ilmenau, yang terletak di negara bagian Thüringen, Jerman. Tak banyak yang tahu tempat ini karena lokasinya yang tersembunyi di belantara Thuringia, namun tak sedikit pula yang jatuh cinta setelah mengunjunginya.

Suasana masih gelap gulita ketika kami sampai di titik awal pendakian. Waktu menunjukkan pukul 4:30 saat kami mulai berdoa demi keselamatan selama menempuh rute pendakian hingga kembali pulang. Satu persatu lentera kami nyalakan. Pendakian pun dimulai.

Pendakian awal terasa lebih berat karena rute yang ditempuh berupa tanjakan yang dipagari tebing curam di sisi kiri. Jurang menganga yang terdapat di bawahnya seakan-akan siap menampung mereka yang ceroboh ketika mendaki. Muki, yang paling berpengalaman dan paling mengenal rute pendakian berkali-kali menunjukkan jalur yang aman dan menyemangati saya dan Mimi yang sudah mulai kelelahan. Kelelahan yang menurut saya wajar setelah menghabiskan empat bulan musim dingin tanpa aktivitas fisik yang signifikan. Kini kami harus kembali menempuh jalanan bukit nan berbatu. Demi matahari terbit, kami pun mencoba tetap bersemangat dan terus memacu langkah sambil sesekali membenarkan posisi lentera.

Tiba di perhentian pertama, kami beristirahat sejenak. Mengganti cairan tubuh yang mulai berkurang serta menikmati suasana kota Ilmenau dari ketinggian. Suasana yang sejuk dengan angin yang sepoi-sepoi menambah syahdunya suasana pagi kala itu. Sesekali tubuh saya bergetar menahan angin dingin yang mengelus leher. Saya sempatkan untuk melakukan munajat kepada Yang Maha Kuasa. Darah saya berdesir. Nikmat Tuhan mana lagi yang mampu saya saya dustakan. Beralaskan batang kayu besar, saya menunaikan ibadah Shalat Subuh. Dua rakaat yang tak mampu saya lukiskan dengan untaian kata.

Pemandangan alam di sekitar Kickelhahn menjelang matahari terbit

Perjalanan kami lanjutkan hingga tiba di perhentian kedua. Kali ini udara terasa lebih dingin dan beku. Di kiri dan kanan jalan kami menemukan jejak salju. Semakin ke atas, salju yang kami temukan semakin tebal. Terkadang kami harus berusaha lebih keras ketika jalan yang kami lalui ditutup lapisan es tipis yang sangat licin. Di tengah usaha mengatasi lapisan es, saya pun terpeleset dan jatuh. Lutut membentur es dan mengakibatkan nyeri serta memar. Tapi hal ini tidak membuat saya ingin berhenti begitu saja. Sudah setengah jalan kami tempuh dan saya tidak akan berhenti di sini. Muki dan Mimi sempat khawatir dengan kondisi saya, tapi saya terus meyakinkan mereka untuk melanjutkan perjalanan sampai tiba di puncak.

Tak lama kami pun sampai di puncak Kickelhahn. Rasa penat yang membalut sekujur tubuh pun seketika sirna begitu Menara setinggi dua puluh meter yang menjadi ciri khas Kicklehahn menjulang di hadapan kami. Tak menunggu lama kami segera mendaki tangga berliku di dalam Menara hingga sampai di atas. Setiba di puncak Menara, kami takjub. Hamparan hutan cemara yang hijau membentang sejauh mata memandang diselimuti kabut tipis dihiasi temaram cahaya dari rumah penduduk di pusat kota. Kami terdiam sejenak. Menikmati pemandangan Ilmenau dan hutan Thuringia yang rimbun dari ketinggian 861 meter di atas permukaan laut. Indah.

Kami pun mempersiapkan segala peralatan untuk mengabadikan momen matahari terbit yang kami nantikan. Meskipun angin cukup kuat berhembus tak menghentikan semangat kami untuk menanti sinar keemasan dari Sang Surya. Namun, alam berkata lain. Setelah menanti selama dua jam, Sang Surya tetap enggan menunjukkan dirinya. Ia lebih senang bersembunyi di balik tebalnya awan yang mendadak muncul entah darimana. Saya menatap jam digital di telepon seluler. Pukul 7:30. Sudah lewat waktu matahari terbit. Artinya kami harus menyudahi petualangan kami di Kickelhahn dan bersiap pulang. Cukup kecewa memang, namun kami tetap gembira menyaksikan sejuta keindahan alam yang Tuhan hamparkan di sana.

Kickelhahnturm (Menara Kickelhahn) penanda pengunjung sudah berada di puncak

Kickelhahn dan Goethe

Tak jauh dari Menara, terdapat sebuah rumah kayu kecil yang disebut “Goethehäuschen”. Bukan sebuah kebetulan. Rumah tersebut memang pernah menjadi tempat peristirahatan Goethe semasa hidupnya ketika ia melakukan hiking ataupun aktivitas berburu di Kickelhahn.

Setiap pendaki dan pengunjung Kickelhahn dapat memasuki rumah tersebut tanpa dipungut biaya. Rumah tersebut juga tak pernah dikunci. Yang lebih menarik lagi, di lantai atas bangunan tersebut kita dapat menemukan sebuah puisi singkat yang ditulis Goethe semasa hidupnya. Bangunan tersebut pernah hangus dilalap api pada tahun 1870 karena kecerobohan manusia, dan dibangun kembali empat tahun setelahnya. Kami pun sempat beristirahat di rumah tersebut sambil menyantap sarapan pagi yang sederhana bak pemburu jaman dahulu. Aroma roti, keju, selai, ditambah hangatnya secangkir teh hangat menjadi pembuka hari yang sempurna pagi itu. Ah Kickelhahn, bagi kami kau semakin istimewa.

Sarapan pagi di Goethehäuschen

*Ditulis oleh Mulya Adhithia, mahasiswa Master of Media and Communication di TU Ilmenau