Tim tari rapai geleng bersama Ibu Konjen RI di Hamburg

Tim tari rapai geleng bersama Ibu Konjen RI di Hamburg

Pengalaman menampilkan tarian tradisional di luar negeri tentu bukanlah pengalaman yang didapatkan oleh setiap orang. Pelajar, mahasiswa, atau orang Indonesia yang sedang berada di luar negeri pun, terkadang tidak punya cukup waktu atau kesempatan untuk berpartisipasi.

Berbeda dengan mahasiswa Indonesia kebanyakan, Aulia Farsi, yang berasal dari Aceh, tepatnya Panton Labu, Aceh Utara, merupakan salah seorang penampil tari Aceh yang sangat aktif di Jerman. Di samping kesibukannya kuliah sebagai calon perawat, Farsi aktif melatih tari Aceh dan tentunya juga tampil.

Uniknya, meski sering menampilkan tari Aceh, beliau mengaku tidak pernah menarikan Saman,yang notebene merupakan tari Aceh yang paling sering ditarikan di luar negeri.

“Saya mulai menari dari tahun 2012. Sebelumnya sama sekali tidak pernah. Nah, ketika itu, bersama anak Ikatan Mahasiswa Aceh di Jerman (IMAN) lain, kami akan tampil di event Pasar Hamburg. Saat itu saya berlatih untuk pertama kalinya, wah… susah. Setelah beberapa kali latihan, akhirnya kami bisa tampil dan mendapatkan sambutan meriah dari warga Jerman maupun Indonesia yang menonton. Seru banget.”

Dari saat itu, Farsi telah tampil belasan kali di berbagai event di Jerman, baik yang diselenggarakan di Hamburg, maupun di kota-kota lain. Bersama tim tari IMAN, dia telah menampilkan Likok Pulo dan Rapa’i Geleng. Mereka tampil di berbagai acara KJRI (Konsulat Jenderal Republik Indonesia) Hamburg, Pasar Hamburg, Acara 17an Berlin, dan berbagai kesempatan lain. Semakin luas dan terkenal, tim tari IMAN yang dipimpinnya semakin sering diundang untuk hadir di acara-acara bergengsi. Berikutnya mereka akan tampil di Rathaus (gedung administrasi kota) Hamburg, September 2017.

Setelah penampilan di KJRI

Awal mulai menari, Farsi mengaku bahwa motivasi terbesarnya adalah untuk memperkenalkan kebudayaan Aceh yang ‘asli’ di luar negeri,

“Awalnya saya berpikir, kenapa banyak tarian Aceh di luar negeri yang ditampilkan oleh bukan oleh orang asli Aceh jadi aneh? Seolah tarian Aceh hanya tepuk-tepuk aja, udah. Rupanya bukan karena sengaja, tapi kebanyakan karena gak tahu.”

Farsi mencontohkan, tarian Saman. Sebagai salah satu tarian yang paling sering ditarikan di luar negeri, banyak orang yang tidak tahu bahwa Tari Saman, yang berasal dari Gayo itu memiliki banyak aturan khusus, yang kalau dilanggar, maka akan merusak orisinalitasnya.

“Misalnya, Saman itu harus ditarikan oleh cowok. Terus bajunya juga khusus baju Gayo, gak boleh sembarangan. Nah, di sini Saman ditarikan oleh cewek. Itu bukan Saman namanya, tapi Ratoeh Doek. Makanya saya juga kalau ketemu tim penari lain yang gak ngerti, saya jelasin. Biasanya setelah itu mereka ubah.

Terus juga, tim tari saya sekarang kan sering tampilin Likok Pulo. Tapi waktu berpartisipasi di acara-acara, sering banget yang bilang kalau kami itu akan menarikan Saman. Karena Saman satu-satunya yang dikenal orang luar. Nah, saya meluruskan, bahwa kami bukan nariin Saman, tapi Likok Pulo, sebelum kami mulai nari. Jadi itu juga ngasih pandangan baru ke orang-orang, bahwa tari Aceh itu bukan hanya Saman.”

Dan cara itu berhasil. Semakin banyak tim penari yang tercerahkan dan setelah itu berusaha semakin ideal dalam menampilkan tarian Aceh. Farsi sendiri mengaku, meski banyak keterbatasan dalam menampilkan tarian Aceh, seperti masalah baju dan penari, dia menolak untuk menampilkan tarian Aceh sekedarnya.

“Misalnya jumlah penari cowok gak cukup, saya gak akan mau menampilkan Saman. Atau nariin Rapa’i Geleng tapi penarinya campur. Itu tidak sesuai dengan aturan dasarnya dan merusak konsep dari tari Aceh. Saya gak mau yang seperti itu.”

Sebab bukan rahasia lagi, ada banyak kritik tentang tari Aceh yang ditampilkan di luar negeri. Entah karena tidak tahu, banyak yang melakukan penyimpangan-penyimpangan seperti tarian Aceh ditarikan tanpa ada Syeh, atau komposisi penari yang tidak tepat, kostum, syair yang dilafalkan asal-asalan, dll.

“Tujuanku ke depannya, juga ingin meluruskan konsep dan memberitahu perbedaan antar tarian Aceh ke grup-grup penari lain. Jujur saya senang banget, semakin banyak orang tertarik dengan tari Aceh, bahkan orang luar Aceh pun mau belajar. Itu sangat penting untuk melestarikan kebudayaan Aceh.

Sampai saat ini saya berusaha untuk seideal mungkin dalam menampilkan tarian Aceh. Saya riset dan baca-baca juga sumber-sumber yang valid tentang tarian Aceh. Kadang ada beberapa hal yang saya belum dapat sumbernya, jadi saya masih menyesuaikan. Tapi begitu dapat sumbernya, saya akan sesuaikan dengan standar idealnya.”

Farsi mengaku tidak punya harapan muluk-muluk ke depannya, kecuali berharap bahwa tarian Aceh semakin dikenal luas oleh masyarakat, semakin banyak yang belajar dan peduli, sehingga kebudayaan Aceh tetap lestari.

“Saya berharap semakin banyak yang tertarik ikut tarian Aceh ini, terutama dari mahasiswa Aceh sendiri agar semakin mengenalkan budaya kebanggaan kita ke luar negeri.”

~Aulia Farsi adalah penggiat tari Aceh di Jerman, mahasiswa keperawatan di AMEOS Institute, dan ketua IMAN periode 2016-2017