Tulisan dari Cut Andraina Yasmina

Jerman, sebuah negara yang terletak di jantung benua Eropa ternyata memiliki banyak hal hal yang menarik bagi saya seorang mahasiswa yang sedang menempuh studi master di sini. Beberapa hal yang menarik itu diantaranya :

  1. ATM yang multifungsi untuk menarik uang serta menabung uang kertas juga koin. Eh, maksudnya apa ya..Begini, kalau di Indonesia kita juga memiliki mesin untuk menabung uang yang dinamakan Cash Deposit Machine (CDM) namun hanya pecahan tertentu saja dan belum bisa menerima uang koin. Sedangkan di Jerman, uang koin pun bisa ditabung mulai dari pecahan 1, 2, 5, 10, 20 sen sampai 50 sen, sedangkan untuk koin1 dan 2 Euro tidak diterima, hehehe. Caranya masukkan kartu atm kemudian pilih Einzahlung dan setelahnya ada pilihan pilihan dan tekan Münzen, seketika akan terbuka sejenis kotak untuk meletakkan uang uang koin yang kita punya. Bunyi krincing krincing yang timbul sangat menyenangkan bagi mahasiswi seperti saya, sedikit merasakan bagaimana rasanya punya banyak uang, walaupun hanya koin. Kemudian kita akan memperoleh bon yang tertulis berapa jumlah koin yang kita tabung berdasarkan nominalnya kemudian jumlah keseluruhannya. Menabung itu kebiasaan jadi walaupun menjadi mahasiswa, duit pas pasan namun tidak ada alasan untuk mencicil sedikit demi sedikit demi menambah pundi-pundi tabungan.
  2. Mesin Refund Botol, ini mesin yang pertama membuat saya terpana selama beberapa detik ketika pertama kali menemukannya. Biasanya mesin ini adanya di supermarket Jerman semisal Aldi, Lidl, Norma dan lainnya. Nah cara pengoperasiannya juga mudah, tinggal masukkan botol minuman yang tertutup dan sudah kosong isinya dan setiap botol bernilai 25 sen, jadi bayangkan kalau anda memiliki seratus botol kosong, hehehe. Setelah semua botol sudah dimasukkan, akan keluar perintah apakah anda mau menyumbangkan untuk para tunawisama atau digunakan untuk belanja. Tinggal pencet pencet tombol saja, dan ini adalah penyebab saya selalu membeli botol air minum walaupun air keran dapat diminum juga dan gratis.
  3. Tidak ada yang membantu untuk memasukkan barang yang sudah dibeli. Pepatah mengatakan pembeli adalah raja namun sepertinya untuk hal hal tertentu tidak berlaku di Jerman. Saya agak shock juga ketika belanja kebutuhan sehari hari dan mau membayar di kasir, eh kok ga ada yang membantu memasukkan belanjaan dan akhirnya dengan panik memasukkan belanjaan di tas sambil membayar kemudian memperhatikan bahwa seluruh pelanggan, tua dan muda juga wajib memasukkan belanjaan mereka ke tas/keranjang/plastik yang mereka bawa. Benar benar memperhatikan efisiensi (rationalisasi). Belum lagi jika anda menggunakan trolley (bila anda berniat belanja besar/bulanan) wajib memasukkan koin yang bervariasi antara 50 sen, 1 Euro atau 2 Euro dan setelah selesai trolley wajib di letakkan di tempatnya atau uang anda terus berada di trolley.
  4. Orang-orangnya yang masih berbahasa Jerman walaupun mereka mengerti bahasa Inggris. Pengalaman buruk ketika mengirim paket di kantor pos yang paketnya lupa di lakban dan membuat petugas nya sedikit jengkel dan marah kepada saya. Anehnya ketika diawal saya bertanya “Do you speak English”? dan petugasnya menjawab “Nein atau yang artinya tidak”. Bagaimana mungkin dia bisa menjawab tidak kalau tidak memahami pertanyaan saya? Namun sisi positifnya adalah mereka bangga dan ingin melestarikan bahasa Jerman jadi secara tidak langsung mereka “memaksa” turis atau pelajar untuk mampu berbahasa Inggris minimal untuk percakapan sehari hari. Dan tiba tiba saja terlintas sebuah pikiran bagaimana kalau di Aceh juga memberlakukan hal yang sama secara bahasa Aceh lumayan sulit dan juga memiliki umlauts seperti halnya Jerman, hehehe.
  5. Kereta api yang menjadi tulang punggung transportasi di Jerman, jadi jangan heran melihat hampir semua golongan usia bepergian dengan kereta api karena selain praktis, hampir semua kota kota di Jerman dihubungkan oleh moda transportasi ini. Tiket dapat dibeli di counter yang tersedia setiap stasiun, secara online atau di mesin yang berjejer rapi di stasiun besar seperti München atau Frankfurt dan ada pilihan bahasa Inggrisnya. Yang menarik adanya umsteigen atau singgah di stasiun tertentu dan menggunakan kereta yang lain ke tujuan anda. Alasannya lagi lagi efisiensi dan ini membuat lumrah kalau ada penumpang yang berlari larian dari satu platform (tempat menunggu kereta datang) ke platform lainnya, karena kadang-kadang jeda waktu yang diberikan sekitar 2 atau menit saja jadi kalau jalannya agak melambai dipastikan akan ketinggalan kereta. Saya beberapa kali berlari-larian seperti dikejar hantu dengan bawaan yang berat kemudian disertai nafas yang ngos-ngosan ketika berada di kereta. Saya juga pernah ditinggal kereta dan sakitnya itu sakit sekali, hehehe.
  6. Stasiun bus yang hanya berupa tiang disertai jadwal keberangkatan yang kurang memadai. Ketika liburan ke negara tetangga, Republik Ceko, saya menggunakan jasa dari Meinfernbus dari Nürnberg dan ketika melihat stasiun busnya menjadi takjub dan tertawa bagaimana Jerman sangat sangat perhitungan terhadap segala sesuatunya. Kalau di Aceh stasiun bus lumayan besar, ada counter dan juga tempat makanan untuk bersantai. Nah disini hanya ada beberapa tiang tiang dengan jurusan tertentu dengan penumpang yang banyak duduk di lantai atau berdiri sambil menunggu kedatangan bus tujuannya. Sama seperti kereta api, jika jaraknya cukup jauh, anda harus berganti bus dan waktu jeda yang diberikan bisa bervariasi antara 1 jam sampai 3 jam. Namun karena jarak stasiun bus dan kereta api biasanya cukup dekat, anda bisa leha-leha sejenak di caffe sambil minum kopi atau makan roti. Yang menarik disini supir bertindak sebagai kernet, jadi barang anda akan diangkut oleh supir ke bagasi, yang memeriksa tiket juga dia, menggunakan HP kemudian mencocokkan QR Code yang dikirim via email, dan juga berfungsi sebagai pelayan di bus. Ini maksudnya bus menyediakan minuman atau makanan ringan namun anda membeli, membayar dan mengambil kembalian sendiri di bagian depan bus, persis tepat di samping supir.

Untuk sementara inilah hal hal unik yang saya temukan di Jerman dan mungkin juga akan bertambah seiiringnya waktu. Sampai bertemu kembali di tulisan saya selanjutnya.